Senin, 02 Desember 2013
Dinamis
Liburan weekend kemarin sempet membuat saya kaget. Banget. Dan berpikir, saya terlalu naif menganggap semua teman saya masih sama seperti terakhir saya bertemu mereka. Karena mereka dinamis. Mereka berubah, bertemu dengan orang-orang, kemudian menerima dan menolak hal-hal dari banyak orang, lalu semua itu membentuk teman-teman saya menjadi sosok baru. Saya aja yang masih naif. Paling nggak sampai hari di mana saya bertemu mereka, weekend kemarin.
Bukan, bukan, saya bukan mau cerita hal apa yang membuat saya shock bertemu teman-teman saya weekend kemarin. Saya hanya mau menuangkan pikiran saya aja soal manusia yang bersifat dinamis itu. Paling nggak, sekarang saya mulai sedikit memikirkan kalimat itu bukan hanya sekedar mengucapkan kalimat itu atau membacanya dari buku-buku.
Menurut saya, manusia sebagai makhluk dinamis itu benar adanya. Kenapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia gak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Percaya deh, seberapa egoisnya, seberapa sombongnya orang, dia pasti butuh orang lain untuk hidup. Simpelnya, kayak saya ini. Kalo kata ibu saya, saya kelewat cuek sama orang, tapi bagaimana pun juga saya butuh orang lain untuk ingetin saya jangan terlalu cuek. Iya, saya butuh ibu saya.
Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, entah itu komunikasi langsung atau tak langsung, itu pasti memberikan pengaruh ke kita. Intensitas kita dalam bertemu dan berkomunikasi dengan orang ikut mempengaruhi perubahan dalam diri kita. Cara orang lain berbicara atau memperlakukan kita, sedikit banyak juga ikut mempengaruhi cara kita bicara. Atau bahkan ketika kita ngobrol dan bertukar pendapat dengan orang, pikiran orang lain sedikit banyak pun ikut berpengaruh dalam cara berpikir kita.
Inilah yang saya bilang perubahan dalam diri seseorang dipengaruhi oleh komunikasi seseorang. Well, saya gak akan ngejelasin soal komunikasi, karena itu akan sama aja kayak kuliah dulu.
Jadi ketika saya mulai sedikit shock dengan perubahan drastis teman saya saat itu, saya sadar kalau selama jeda waktu kami jarang pergi atau ngumpul bersama, dia bertemu banyak orang. Dia bertemu dengan berbagai macam orang yang beraneka macam, dan itulah yang akhirnya berada di proses "penerimaan" dan "penolakan" dari orang-orang di sekitarnya.
Dan ketika saya bertemu dengan teman saya, proses "penerimaan" dan "penolakan" itu pun ada dalam diri saya. Saya bisa menerima atau menolak sikap baru teman saya. Keputusan untuk menerima dan menolak itu balik lagi ke diri masing-masing, kalau menurut saya sih keputusan itu berdasarkan sesuai atau tidaknya dengan prinsip dan tujuan dalam diri kita masing-masing.
Ketika kita memutuskan untuk menerima hal baru dari orang-orang di sekitar kita, maka tidak akan ada masalah dalam komunikasi. Respon yang ada adalah tindakan positif karena kita menerima, setuju, dan bisa jadi kita akan mengikuti hal baru yang kita dapat dari orang lain.
Lain halnya jika menolak hal baru yang datang ke kita. Misal, orang di sekitar kita menyukai musik beat kencang, dan setiap hari kita mendengar musik itu. Respon yang terjadi adalah kita menjadi suka atau kita tetap bertahan untuk menolak. Jika menolak, berarti akan ada konflik dalam komunikasi (bukan konflik berarti lo ribut ya), di mana kita tidak menerima hal baru tersebut. Jika diatasi dengan baik maka semua akan baik-baik saja. Lalu kalau gak baik-baik gimana? Bisa jadi kita beneran ribut sama teman kita, atau bahkan kita yang akan meninggalkan teman-teman kita.
Kalau dalam soal saya dan sikap baru teman saya, adalah saya menolak sikap dan pola pikir teman saya ini, tapi saya berusaha mengatasi konflik komunikasi yang ada. Konflik komunikasi yang ada adalah saya tidak sepakat dengan tindakan yang diambil oleh teman saya, saya tidak sepakat dengan sikap dan pola pikirnya. Tapi,saya berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik dengan teman saya ini. Well, yang saya lakukan adalah saya menunjukkan bahwa diri saya tidak menyukai dengan pola pikir dia, saya mengatakannya kepada teman saya, tapi saya tetap menjadi temannya. Ketika dia mengeluarkan pola pikirnya yang tidak sepaham dengan saya atau sikap yang tidak sesuai dengan visi saya, maka saya akan berusaha menolak dengan alasan yang jelas.
Well, sekali lagi, people do changes. Tinggal kitanya aja gimana menyikapi setiap perubahan-perubahan itu. Gimana kita menyaring itu semua.
Sabtu, 27 Juli 2013
Takut Berita
Ketika jaman kuliah dulu, salah satu bahasan di hampir seluruh mata kuliah adalah berita memberikan rasa takut dan tidak nyaman bagi masyarakat. Kok berita? Iya, karena saya kuliah di jurusan jurnalistik. Kok bisa memberikan rasa takut dan tak nyaman? Karena isi beritanya.
Ya, isi berita rupanya bisa memberikan rasa takut dan tak nyaman bagi masyarakat. Kalo dulu di kuliah sih, kita para calon wartawan (disebut gitu karwna kuliah di jurnalistik) harus hati-hati dalam menulis berita, baik dari angle berita ataupun bahasa jurnalistiknya. Kalau salah, bisa-bisa menimbulkan takut dan tak nyaman.
Contohnya ketika dulu ada berita kolor ijo. Karena terus diekspos dan disampaikan dengan kurang baik, yang terjadi di masyarakat adalah mereka takut dan nggak nyaman. Parahnya ada yang memanfaatkan ini untuk hal-hal yang nggak baik seperti pura-pura jadi kolor ijo demi menguras harta seseorang.
Well, dulu jaman kuliah dan ketika membahas persoalan sebuah berita bisa bikin rasa takut dan nggak nyaman, setengah dari diri saya merasa hal seperti ini adalah hal yang berlebihan. Saya, ketika masa itu, berpikir bagaimana bisa sebuah berita yang berdasar data dan fakta malah bikin takut?
Sampai akhirnya ketika saya menjadi wartawan saya belum menemukan jawaban nyata dari pertanyaan saya itu. Untungnya saat jadi wartawan saya pegang desk lifestyle, kuliner, wisata, dan hotel. Desk yang menurut saya adalah desk hura-hura karena liputannya udan bikin saya main sambil kerja dan beritanya adalah feature news. Mentok-mentok bikin hardnews ya di desk hotel.
Dan jawaban dari pertanyaan saya soal berita bisa bikin takut dan tak nyaman itu akhirnya saya dapatkan. Jawabannya saya dapat justru ketika saya tidak lagi menjadi wartawan. Iya, akhirnya saya sendiri yang merasakan bahwa berita bisa menimbulkan rasa takut, tak aman, tak nyaman di nasyarakat. Saya punya rasa takut itu terhadap berita.
Bagaimana bisa, saya yang dulu berkutat pemberitaan dari mulai cari isu, getting news ke sana ke sini, nulis, mantau berita dan lain-lain, bisa sampai punya rasa takut terhadap berita? Ini yang saya juga belum tau.
Jadi, rasa takut terhadap berita itu ternyata rasanya adalah bikin saya menghindar dari membaca berita. Okay saya spesifikasiin ya. Berita yang saya hindari adalah berita dari online terutama berita dari satu situs online yang terkenal di masyarakat. Kenapa saya hindari? Karena saya takut baca berita di situs online itu.
Karena saya terbiasa dengan hatus update berita setiap hari (kebiasaan dari jaman kuliah dan jaman jadi wartawan dulu yang kebawa sampe sekarang), setiap pagi saya baca berita di salah satu situs berita online terbesar. Dan entah kenapa berita pagi di online tersebut didominasi oleh berita kecelakaan dan kriminal. Berita-berita yang justru membuat saya takut dan nggak nyaman. Berita yang kalau saya masuk tol atau naik kendaraan apapun tiba-tiba membuat saya berpikir "aduh aman nggak ya ini lewat jalan tol? Aman nggak ya kalau saya naik bus atau kereta?". Pun dengan berita kriminal. Sangat sering loh saya punya ketakutan seperti "aduh pencurian di sana jangan-jangan bisa ke sini? Aduh nanti kalau saya pulang naik angkot gimana ya, aman ngga ya?".
Dari apa yang saya rasakan itu, desk berita kriminal sangat-sangat memberikan rasa takut untuk saya. Makanya sekarang saya mengurangi intensitas saya untuk baca berita di situs online tersebut. Dan saya nggak pernah menyangka, rasa takut dari berita ternyata separah ini.
Beruntungnya saya, dua media cetak tempat saya bekerja dulu tidak ada desk kriminal atau kecelakaan. Kalau ada pasti ada kemungkinan saya ditempatkan di desk itu dan justru bisa bikin saya takut untuk meliput berita karena nggak nyaman.
Oh kalau kata dosen saya dulu sih, untuk menghindari rasa takut dan tidak nyaman berita harus dikemas apik. Dengan bahasa yang baik, seperti yang saya bilang tadi. Selain itu juga bisa dengan memposisikan berita atau kalau dalam media cetak dengan rubrikasi berita yang tepat.
Berita kriminal dalam media cetak nggak mungkin ditaruh di halaman-halaman awal kan? Berita kriminal biasanya ditaruh di halaman-halaman akhir supaya pembaca tidak takut duluan ketika buka majalah. Sama halnya dengan berita online. Bisa kan media online ini tidak memunculkan berota kriminal dan kecelakaan semalam di awal berita pagi?
Ada baiknya admin media online menaruh berita translate (istilah berita yang diambil dari media luar negeri dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, istilah kantor saya dulu di media online) tentang kesehatan, manfaat buah, atau feature news tentang traveling atau ramadhan dan hal yang jadi obrolan masyarakat untuk di berita awal di pagi hari. Tujuannya seperti majalah itu, supaya pembaca tidak lari ketakutan karena berita yang muncul pertama menyeramkan.
Jadi, ada yang punya rasa takut dan nggak nyaman terhadap berita?
Psst, that's why saya lebih milih untuk nulis dengan feature news dengan topik yang full entertain, saya nggak mau bikin takut masyarakat.
Selasa, 23 Juli 2013
Selamat Hari Anak Nasional
Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SD, setiap tanggal 22 Juli ada aneka macam lomba untuk memperingati Hari Anak Nasional. Kalau yang nggak ikutan lomba ya ikutan kasih semangat untuk yang lomba atau main di kebun sekolah kayak saya ini.
Satu-satunya yang saya ingat dari perlombaan yang saya ikuti pas Hari Anak Nasional adalah lomba masukin air dari ember ke galon pake gelas secara tim. Hasilnya tim saya kalah dan beda tipis banget sama tim menang. Selebihnya yang saya ingat adalah hura-hura, ketawa dan main sepuas hati, pulang cepat.
Dan sekarang saya mikir, emang cuma hanya itu ya esensi Hari Anak Nasional? Kok, saya yang waktu itu masih menjadi seorang anak (di bawah 18 tahun ya), cuma ngerasain kalo Hari Anak hanya sebatas seremonial saja. Nggak lebih. Dari apa yang saya rasain tiap peringatan hari anak dari kelas 1 sampai 6 SD, saya nggak tahu loh kenapa ada Hari Anak, apa esensinya. tujuannya apa. Beneran nggak tau.
Sampai akhirnya beberapa menit lalu saya tau kenapa ada peringatan Hari Anak Nasional. Dari situs Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia www.ykai.net, dijelasin kalau Peringatan Hari Anak Nasional untuk menumbuhkan kepedulian dan partisipasi bangsa Indonesia untuk menghargai dan menjamin hak anak tanpa membedakan, memberikan yang terbaik untuk anak, menjamim semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Selain itu peringatan Hari Anak Nasional juga untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran anak akan hak, kewajiban, dan tanggung jawab kepada orang tua, masyarakat, serta bangsa dan negara.
Well, kalau dilihat dari penjabaran yang dijelasin situs Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia itu, apa yang saya lakuin tiap peringan HAN di bangku SD itu emang nggak nyampe untuk dapet esensi dari peringatan HAN.
Peringatan HAN untuk meningkatan kesadaran anak akan hak, kewajiban dan tanggung jawab kepada orang tua, masyarakat serta bangsa dan negara. Asli loh, ketika pulang sekolah sehabis perayaan HAN di sekolah, yang saya ngerti adalah saya baru saja having fun di sekolah dengan aneka lomba dengan teman-teman. Agak miris memang saya sama diri sendiri yang nggak paham soal HAN.
Masih ada nggak sih sekolah-sekolah sekarang yang memperingati Hari Anak Nasional dengan aneka perlombaan? Semoga nggak deh ya.
Ada banyak cara untuk peringatan HAN agar anak lebih mengerti. Misal, bisa saja kan sekolah, terutama SD, mengajak anak-anak jalanan yang nggak mampu bersekolah untuk datang ke sekolah pada Hari Anak, kemudian murid dan anak jalanan ini belajar bersama. Menurut saya, cara ini lebih mampu menggugah anak-anak untuk tau kalau hak anak adalah sekolah, bukan berkeliaran mencari uang di jalanan.
Atau bisa saja sekolah-sekolah ini mengajak muridnya untuk berkunjung ke panti jompo untuk membantu para manula di sana. Paling tidak hal ini bisa membantu anak-anak untuk menyadari mereka harus berbakti kepada orang tua dan menyadarkan bahwa mereka adalah generasi muda untuk meneruskan bangsa ini.
Dari dua hal simple tersebut, menurut saya, anak-anak juga akan paham kok kenapa diadakan Hari Anak Nasional. Bukan karena mereka adalah seorang anak yang harus dimanjakan dan diberikan hal-hal menyenangkan. Tapi karena mereka anak yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Saya rasa, dua hal simple itu akan sampai esensi Hari Anak bahkan anak 6 tahun juga pasti akan mengerti.
Pendidikan Anak Indonesia
Awal Juni lalu, saya mendapatkan sebuah message dari teman saya yang isinya adalah tawaran bagi saya untuk mengajar secara sukarela di sebuah sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu, Sekolah Master Depok. Saya ditawari untuk mengajar Jurnalistik seminggu sekali tanpa dibayar. Hal pertama yang saya lakukan adalah saya mencari tahu sekolah yang dimaksud oleh teman saya. Rupanya sekolah tersebut di bawah naungan sebuah yayasan yang menggratiskan biaya sekolah untuk murid-muridnya.
Murid di sekolah ini rupanya adalah para anak jalanan yang kebanyakan berasal dari terminal dekat sekolah. Mereka sekolah di sini bebas biaya sama sekali dan mereka juga bisa mengambil kelas-kelas sesuai keinginan mereka, sebut saja kelas wirausaha, kelas musik, atau kelas jurnalistik.
Saya cukup amazing ketika tahu tentang sekolah ini dan masalah utama yang dihadapi sekolah ini saat ini, soal penggusuran sekolah. Sekolah ini adalah sekolah hebat. Bagaimana tidak, sekolah ini sudah menampung dan memberikan pendidikan gratis bagi ribuan anak jalanan dan hasilnya para anak jalanan ini ada yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke universitas negeri, bahkan tiap tahunnya ada anak yang mendapat beasiswa ke luar negeri.
Dan hal paling memprihatinkan adalah soal penggusuran sekolah. Sekolah yang sudah melahirkan banyak sekali anak-anak hebat justru malah terancam digusur karena akan dibangun apartemen yang justru akan menguntungkan satu pihak, bukan anak-anak. Kalau dilihat dari esensi Hari Anak Nasional, seharusnya hal ini jangan sampai terjadi dong. Katanya Hari Anak Nasional untuk menyadarkan hak anak, katanya Hari Anak Nasional untuk memperlakukan semua anak secara sama rata tanpa diskriminatif, katanya Hari Anak Nasional untuk mengingatkan jaminan keberlangsungan hidup anak.
Dari contoh satu sekolah itu, masih banyak esensi dari Hari Anak yang belum terwujud. Jangankan terwujud, tercapai saja belum. Apakah karena sekolah itu gratis dan anak jalanan yang bersekolah di situ kemudian sekolah akan digusur untuk kepentingan pihak bermodal? Ada diskriminasi anak dong di dalamnya.
Cobalah untuk pahami poin keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang bukan hanya makan dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Pendidikan adalah hal yang penting bagi keberlangsungan hidup sang anak. Jadi bayangkan bila pendidikan tidak diterima anak, bagaimana masa depan anak-anak Indonesia, bagaimana masa depan bangsa dan negara ini.
Bukan hanya di sekolah ini saja. Masih banyak kok hak anak berupa pendidikan layak yang belum terpenuhi. Masih banyak sekolah di pedalaman Indonesia yang kelasnya hanya terbuat dari papan-papan bahkan kelas satu dengan kelas lain digabung karena terbatas ruang kelas. Masih banyak anak-anak Indonesia yang belum mendapatkan haknya. Hak rasa aman, masih banyak anak-anak Indonesia yang disiksa untuk bekerja. Dan masih ada setumpuk hak lain untuk anak Indonesia yang terabaikan.
Seharusnya Peringatan Hari Anak Nasional bukan hanya diucapkan oleh para pemerintah atau siapapun dengan mengucapkan "Selamat Hari Anak Nasional" atau mengadakan aneka lomba. Pemenuhan hak-hak anak dan menyadarkan kepada orang tua akan hak anak lah yang menurut saya seharusnya dilakukan di Hari Anak.
Memberikan beasiswa atau menggratiskan biaya sekolah agar anak-anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya dan anak-anak yang tidak bersekolah karena mahalnya sekolah bisa kembali mengenyam pendidikan. Bagi saya, itulah hal yang paling berharga sebagai hadiah di Hari Anak Nasional.
Semoga anak Indonesia terpenuhi hak pendidikannya dan segala hak lainnya, serta tak melupakan kewajibannya untuk orangtua dan bangsa. Dan semoga Hari Anak Nasional ini bukan hanya sebagai peringatan semata, tapi kita semua mengerti akan esensinya.
Jakarta, 23 Juli 2013
Minggu, 30 Juni 2013
Pada Sebuah Perasaan
Ini bukan tentang mereka. Ini bukan tentang dia.
Ini tentang kita.
Entah berapa ribu hari kita habiskan bersama
Dan entah berapa juta detik kita lewati dengan tawa
Mereka bilang kita berjodoh
Hanya karena kita selalu bersama menghabiskan jutaan detik dan menit selama beribu-ribu hari
Mereka bilang kita sepasang kekasih
Hanya karena kita tak terpisahkan sejak dulu dan tetap bersama hingga sekarang
Dan seperti biasa kita hanya tersenyum
Menganggap itu seperti angin lalu
Lalu mereka datang lagi
Mencoba meraba alam bawah sadar kita
Mereka bilang kita saling mencintai di balik ucapan sanggahan dan tawa kita untuk mereka
Kita hanya diam, salah tingkah, dan tenggelam dalam pikiran masing-masing
Kita tak pernah tahu tentang perasaan dalam jutaan detik dan ribuan hari
Yang kita tahu, kita bersama
Yang kita tahu, kita tertawa
Dan kita saling melengkapi
Ini tentang aku. Ini tentang kamu.
Ini tentang kita.
Tentang sebuah perasaan yang lama tersimpan di antara kita.
Cinta.
-Lala-
Jakarta Juni 2013
Minggu, 09 Juni 2013
Ayo pakai Bahasa Daerah
Dibesarkan dalam keluarga yang sangat jawa, bukan berarti aku bener-bener paham bahasa jawa. Stupid, huh? Hahahaha...
Dari kecil, entah karena pengaruh lingkungan tempat tinggal ato gimana, aku terbiasa pakai bahasa Indonesia padahal mama papa kalo ngobrol pake bahasa jawa. Jadilah aku di rumah ngobrol pake bahasa indonesia.
Dan persoalan bangsa Indonesia adalah terancam punahnya bahasa lokal alias bahasa daerah emang kayaknya bukan main-main. Iya contohnya aku, sodara-sodara.
Ketika mama ato papa ngobrol sama mbah pake bahasa jawa, pasti selalu dari pertanyaan dari aku soal "apa bahasa indonesianya?" Hal ke-tidak-tahu-an bahasa jawa lainnya adalah aku hampir ga pernah dapet nilai bagus untuk pelajaran bahasa jawa. Miris.
Iya miris. Keluarga besar aku adalah jawa tulen, tapi aku gak pernah dapet nilai bagus. Jangankan nilai bagus, kadang aja baca teks bahasa jawa di buku gak tau artinya apa.
Dan hal paling miris lainnya adalah ketika aku bener-bener ada di sekolah negeri. Oke, SD aku di sekolah swasta punya yayasan kantor tempat papa kerja di mana anak-anaknya pake bahasa indonesia dalam berkomunikasi. Dan SMP aku di sekolaj negeri dan ini adalah pertama kalinya aku dapet temen di luar lingkungan tempat kerja papa hahaha..
Di SMP ini bahasa jawa jadi bahasa kedua setelah bahasa indonesia. Hal paling miris yang aku ingat adalah ketika kelas 2 SMP saat istirahat. Lagi di depan kelas ramean dan seorang teman berkata "kantin yuh, kencot". Oke bahasa jawa yang dipake kebanyakan adalah bahasa jawa ngapak di tempat aku.
Dari kalimat teman aku, semuanya meng-iya-kan dan cuma aku yang diem. Sampe akhirnya aku nanya saking gak tau artinya. "Kencot apaan sih artinya?"
Bisa ditebak kejadian selanjutnya. Ngakak semua temen aku. Sampe salah seorang dari mereka nanya
"Lala, kamu di cilacap dari kapan?"
"Dari lahir"
"Terus kamu engga tau kencot itu apa?"
"Engga. Apaan sih artinya?"
"La, serius kamu ga tau? Hahahahahaha"
Miris ya, dari lahir di Cilacap tapi bahasa lokal aja ga tau. Dan akhirnya dia kasih tau kalo kencot itu lapar.
Dan ketika aku baca soal beberapa bahasa daerah terancam punah, kejadian yang aku alami gini langsung flashback. Untuk ngerjain PR bahasa jawa aja aku mengerahkan bala bantuan dari mama papa sampe nelpon mbah.
Mungkin sebagian anak muda menganggap kalo bahasa daerah adalah hal yang kuno. Sebagian lain mungkin terjebak dalam lingkungan yang udah pakai bahasa indonesia kayak aku gini.
Sebenernya bahasa daerah gak kuno kok. Well ini yang aku pelajari dari bahasa jawa selama s
SD dan SMP, soalnya di SMA ga ada bahasa jawa :p
Kamu gak akan di cap kuno, norak ato aneh pake bahasa jawa. It's like your identity. Coba deh ke bandung ato jogja di mana anak mudanya masih banyak yang pake bahasa daerahnya.
Dan bahasa daerah justru bikin akrab sama lingkungan sekitar. Ini aku rasain banget pas aku kuliah di bandung dan magang di jogja.
Bahasa sunda yang simpel aku pake ketika ngobrol sama penjaga kos, penjual warung sebelah, ato pas nyetop angkot hehe..
Bahasa jawa, yah sebagai orang jawa kan malu ya gak bisa bahasa jawa. Jadilah jaman SMA ada temen yang berbaik hati untuk ngajakin ngobrol bahasa jawa jadilah bisa juga akhirnya. Dan ini berguna saat magang.
Saat magang, wawancara ke petani yang sama sekali ga bisa bahasa indonesia dan cuma bisa bahasa jawa akhirnya lancar. Tantangannya adalaj ketika harus pake bahasa jawa kromo inggil dimana itu adalah bahasa jawa alus untuk ngobrol ke orang yang lebih tua. Awalnya patah-patah ngobrolnya. Tapi akhirnya lancar ya walo camour campur dkit pake bahasa jawa ngoko hihihi..
Pengalaman yang aku rasain di jogja itu, jadi wartawan tv lokal dan banyak wawancara dengan warga loka pakai bahasa jawa, bikin aku sadar kalo hal hal yang bersifat kedaerahan bukan hal kuno. Itu kayak bagian dasar dari diri kita. Asal usul kita.
Apalagi pak pemred banyak berbagi ilmu soal jawa. Dari bahasa, keris, tarian. Dan hal ini bikin aku yang dulunya bego banget bahasa jawa jadi suka banget sama bahasa jawa.
Percaya enggak percaya, naskah anchor untuk program berita bahasa jawa kadang aku yang bikin loh. Naskah beritanya jawanua sih ada tim editornya, aku yang bikin naskah jawa untuk bridging anchor dari opening ke berita, dari berita satu ke berita lain, opening dan closingnya.
Awalnya, redpel di tempat aku magang ini gak kasih berita bahasa jawa buat aku urus. Sampe akhirnya dia kayaknya liat perkembangan bahasa jawa aku dan kasih program ini ke aku. Naskahnya pun gitu. Ga langsung dia kasih. Setiap abis aku kerjain naskah jawa, dia selalu nyuruh aku ke pemred untuk cek naskah. Yap karena naskah yang dipake adalah kromo inggil, dan itu adalah level bahasa tersulit, jadi harus cek ulang. Lama-lama redpel aku kasih kepercayaan ke aku untuk nyiapin naskah jawa kromo inggil dalam artian redpel gak ngawasin banget harus pake kata yang ini ato itu, tapi tetep harus cek ke pemred.
Dari situlah pak pemred jadi sering ngajak ngobrol bahasa jawa. Dan ternyata seru loh. Hahaha..
Paling gak, pengalaman magang ini bukan cuma nambah pengalaman jurnaliatik tapi juga pengalaman bahasa jawa dan nyadarin aku kalo berbahasa daerah itu seru dan nunjukin rasa hormat kita ke orang yang lebih tua.
Well, gak usah ragu deh buat belajar bahasa daerah. Gak cuma tau bahasa nya tapi ada nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam setiap bahasa daerah. Itu sih yang aku rasain. Gak cuma ngerti dan bisa bahasa jawa aja, tapi dengan belajar bahasa jawa aku juga tau gimana nilai-nilai yang ada di masyarakat jawa. Dan ini berlaku juga ketika kamu belajar bahasa daerah mana saja.
Jadi ayo belajar bahasa daerah, pakai bahasa daerah, lestarikan dan jaga bahasa daerah kita.
Sugeng ndalu!
Rabu, 05 Juni 2013
Mendengar Bicara
"Tahu kenapa Tuhan menciptakan 2 kuping dan 1 mulut? Supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Supaya kita belajar menghargai orang lain bukan menyombongkan diri."
Pernah dengar kata-kata itu? Aku mendapatkannya dari buku yang aku baca dan membuat aku berhenti sejenak dan berpikir. Ada benarnya karena hampir setiap kata yang keluar dari mulut bisa jadi adalah kesombongan atau kata-kata yang menyinggung orang lain.
Terkadang aku juga berpikir, mungkin kebanyakan dari kita kurang memaksimalkan dua telinga kita. Maksudku, lebih sering mana kamu, curhat atau dicurhati orang lain? Ketika kita curhat kepada teman, saat itulah mulut kita banyak keluar kata-kata. Tapi apa telinga kita mendengarkan kata-kata teman kita saat mereka curhat?
Pernah satu waktu ketika aku masih jadi wartawan, aku mewawancarai salah satu anggota DPRD kota tempat aku kuliah itu. Hal yang aku bicarakan adalah soal jalur sepeda. Di kota itu, jalur sepeda hanya diberi cat dan tak ada pemisah dengan jalur kendaraan lain. Kalau kata aku mah itu berbahaya buat pesepeda karena bisa aja terserempet kendaraan lain.
Hal yang aku tanyakan di tengah wawancara adalah "kenapa sih Pak di sini ga dixoba diterapin jalur khusus sepeda yang pakai pemisah gitu sama jalur kendaraan bermotor kayak di Magelang gitu?"
Pertanyaan itu diajuin bukan tanpa alasan. Karena aku lihat jalur khusus sepeda, becak di magelang lebih aman dan nyaman karena terpisah sama kendaraan motor. Jadi itu adalah semacam pertanyaan yang juga untuk masukan. Karena sebagai bagian dari kota itu dan pemakai jalan, rada serem juga kan ketika lagi berkendara terus jalanan ramai dan nyerempet orang yang lagi sepedaan.
Jawaban dari sang anggota DPRD cukup bikin kaget lho. Dia menjawab dengan nada yang meninggi dan bilang "itu kab magelang, ini di Bandung. Beda dong. Magelang ya magelang, jangan samain sama Bandung dong."
Well, sebenernya kaget loh jawaban seperti itu keluar dari mulut seorang anggota DPRD. Kalau aku melihatnya sebagai narasumber itu adalah hal wajar narasumber menjawab pertanyaan wartawan dengan nada yang gak sante.
Dalam otak aku saat itu adalah, bagaimana bisa seorang petinggi di kota itu menjawab sebuah masukan dengan jawaban yang, kalau kata aku, gak bijaksana. Mmm semacam menolak masukan yang datang tanpa mengkajinya terlebih dahulu.
Mungkin pertanyaan yang aku ajukan salah juga ya, atau mungkin terlalu sensitif. Tapi apapun itu aku belajar kalau ternyata banyak dari kita yg masih menggunakan mulut lebih banyak daripada telinganya. Terkadang kita lebih banyak mengikuti kemauan yang keluar dari mulut kita daripada mendengarkan masukan dari sekitar kita.
Mungkin aku pun terlalu kurang peka sehingga mengeluarkan pertanyaan dari mulutku yang bikin sang bapak DPRD sakit hati.
Apapun itu paling nggak aku belajar, hati-hati mengeluarkan kata dari mulutmu dan banyaklah mendengar orang disekitarmu, sebagaimana kamu ingin didengar orang.
Cheeerss...
Selasa, 04 Juni 2013
Jika tak ada 'Kalau'
Orang bilang kalau adalah penyesalan
Kalau bagian masa lalu
Tangis penyesalan selalu diikuti
Kalau saja aku tak begitu
Kalau saja aku tak begini
Orang bilang kalau itu menjual mimpi
Mimpi yang belum jelas kapan terwujud, katanya
Dia yang terdiam di ujung sana berbicara pelan
Kalau saja aku kaya
Kalau saja aku bisa melakukan semua yang aku mau
Orang bilang kalau tak nyata
Tidak ada di realita
Kalau hanya ada di angan
Tapi kalau tidak sesepele itu
Jika tak ada ada kalau
Bagaimana kau mempertimbangkan berbagai hal
Jika tak ada kalau
Dari mana kau belajar tentang prioritas
Jika tak ada kalau
Dari mana kau memacu dirimu mewujudkan impian
Jika tak ada kalau
Bagaimana kau lari dari realita
Jakarta, Juni 2013
Senin, 03 Juni 2013
Ayo Menulis!
"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." - Pramoedya Ananta Toer
Sejak kelas 2 SMA, menulis menjadi suatu bagian dalam kehidupanku. Dan aku menganggapnya sebagai suatu konsekuensi dari pilihanku masuk jurusan Bahasa. Seminggu 4 hari selalu ada pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia. Bermain dengan kata menjadi hal yang aku anggap hanya sekadar tugas sekolah.Sampai suatu hari, Pak Anang, guru sastraku selalu punya cara untuk membuat kamu menulis. Meditasi, mengeluarkan apa yang kami rasakan dalam sebuah kata, hingga mengucapkan satu kata secara spontan.
Aneka tugas mulai dari membuat puisi, musikalisasi puisi, hingga membuat rangkuman karya sastra, membuat aku pelan-pelan jatuh cinta dengan dunia menulis. Bukan hanya suatu pemenuhan tugas sekolah tapi menulis juga menjadi sarana untuk aktualisasi diri, paling nggak itu menurutku.
Dari hanya membaca karya sastra dari angkatan 20an, angkatan Balai Pustaka hingga sastra mbeling, dan menulis aneka puisi, cerpen hingga skenario untuk drama sastra, membuat saya benar-benar jatuh cinta dan memaksakan diri untuk rajin menulis.
Saat kuliah pun begitu. Hampir setiap tugas di Jurusan Jurnalistik membuat saya sering membuat sebuah tulisan. Bedanya, jika di SMA saya banyak menulis fiksi, di Jurnalistik saya membuat tulisan sesuai fakta yang terjadi.
Tugas mingguan untuk apresiasi buku juga memacu saya untuk menulis. Apresiasi yang berisi rangkuman buku, memberikan penilaian terhadap buku, simpulan hingga pertanyaan tentang buku menjadi makanan mingguan yang tak boleh lewat. Okeh, tugas ini memang salah satu tugas yang "apaan sih tiap minggu" buat aku, tapi pada akhirnya aku sendiri sadar, dari tugas ini aku dapat banyak hal. Pertama, jelas ilmu yang didapat dari buku. Kedua, cara kamu menyampaikan apa yang ada di otak kamu tentang suatu hal lewat kata-kata. Ketika, berpikir kritis. Keempat, belajar menghargai karya orang lain.
Dan sekarang, setelah hampir duia tahun lulus dari kuliah, saya sadar, saya kehilangan banget momen saat menulis. Saat harus berpikir untuk mencari kata yang tepat untuk menyampaikan ide, bermain-main dengan kata, bahkan buka kamus besar bahasa Indonesia untuk mencari arti kata yang nggak umum kita pakai.
Saat masih menjadi wartawan, adalah saat yang paling menyenangkan. Gimana nggak, lo kerja dan dibayar untuk pergi ketemu banyak orang dan menulis. Yap, menulis tentang banyak hal. Sampai sekarang, aku masih menganggap jadi wartawan adalah profesi paling menyenangkan. Dapat ilmu, menulis, dapat hal baru, menulis, dam bahagia.
Seenggaknya benar kata salah seorang senior saya di kampus. "Beneran deh, mungkin sekarang kamu benci dengan tugas apresiasi buku setiap minggu dari Pak Sahala. Tapi percaya deh, dengan tugas itu kamu akan membaca banyak hal, dapat ilmu banyak banget yang bahkan mungkin nanti saat kmu kerja, kamu nggak akan sempat untuk cari ilmu dari membaca banyak buku seperti sekarang".
Well, I agree with him. Dan apa yang saya rasa, bukan hanya kehilangan waktu untuk membaca, tapi waktu untuk menulis, seperti yang saya bilang, menulis untuk bisa mencapai aktualisasi diri.
Dan setuju juga dengan Pramoedya, tulisan nggak akang lekang oleh waktu. Karena tulisan kita mengandung pemikiran, ilmu, dan diri kita sendiri.
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" - Pramoedya Ananta Toer
So, let's writting!!