"Tahu kenapa Tuhan menciptakan 2 kuping dan 1 mulut? Supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Supaya kita belajar menghargai orang lain bukan menyombongkan diri."
Pernah dengar kata-kata itu? Aku mendapatkannya dari buku yang aku baca dan membuat aku berhenti sejenak dan berpikir. Ada benarnya karena hampir setiap kata yang keluar dari mulut bisa jadi adalah kesombongan atau kata-kata yang menyinggung orang lain.
Terkadang aku juga berpikir, mungkin kebanyakan dari kita kurang memaksimalkan dua telinga kita. Maksudku, lebih sering mana kamu, curhat atau dicurhati orang lain? Ketika kita curhat kepada teman, saat itulah mulut kita banyak keluar kata-kata. Tapi apa telinga kita mendengarkan kata-kata teman kita saat mereka curhat?
Pernah satu waktu ketika aku masih jadi wartawan, aku mewawancarai salah satu anggota DPRD kota tempat aku kuliah itu. Hal yang aku bicarakan adalah soal jalur sepeda. Di kota itu, jalur sepeda hanya diberi cat dan tak ada pemisah dengan jalur kendaraan lain. Kalau kata aku mah itu berbahaya buat pesepeda karena bisa aja terserempet kendaraan lain.
Hal yang aku tanyakan di tengah wawancara adalah "kenapa sih Pak di sini ga dixoba diterapin jalur khusus sepeda yang pakai pemisah gitu sama jalur kendaraan bermotor kayak di Magelang gitu?"
Pertanyaan itu diajuin bukan tanpa alasan. Karena aku lihat jalur khusus sepeda, becak di magelang lebih aman dan nyaman karena terpisah sama kendaraan motor. Jadi itu adalah semacam pertanyaan yang juga untuk masukan. Karena sebagai bagian dari kota itu dan pemakai jalan, rada serem juga kan ketika lagi berkendara terus jalanan ramai dan nyerempet orang yang lagi sepedaan.
Jawaban dari sang anggota DPRD cukup bikin kaget lho. Dia menjawab dengan nada yang meninggi dan bilang "itu kab magelang, ini di Bandung. Beda dong. Magelang ya magelang, jangan samain sama Bandung dong."
Well, sebenernya kaget loh jawaban seperti itu keluar dari mulut seorang anggota DPRD. Kalau aku melihatnya sebagai narasumber itu adalah hal wajar narasumber menjawab pertanyaan wartawan dengan nada yang gak sante.
Dalam otak aku saat itu adalah, bagaimana bisa seorang petinggi di kota itu menjawab sebuah masukan dengan jawaban yang, kalau kata aku, gak bijaksana. Mmm semacam menolak masukan yang datang tanpa mengkajinya terlebih dahulu.
Mungkin pertanyaan yang aku ajukan salah juga ya, atau mungkin terlalu sensitif. Tapi apapun itu aku belajar kalau ternyata banyak dari kita yg masih menggunakan mulut lebih banyak daripada telinganya. Terkadang kita lebih banyak mengikuti kemauan yang keluar dari mulut kita daripada mendengarkan masukan dari sekitar kita.
Mungkin aku pun terlalu kurang peka sehingga mengeluarkan pertanyaan dari mulutku yang bikin sang bapak DPRD sakit hati.
Apapun itu paling nggak aku belajar, hati-hati mengeluarkan kata dari mulutmu dan banyaklah mendengar orang disekitarmu, sebagaimana kamu ingin didengar orang.
Cheeerss...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar