Senin, 03 Juni 2013

Ayo Menulis!

"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." - Pramoedya Ananta Toer

Sejak kelas 2 SMA, menulis menjadi suatu bagian dalam kehidupanku. Dan aku menganggapnya sebagai suatu konsekuensi dari pilihanku masuk jurusan Bahasa. Seminggu 4 hari selalu ada pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia. Bermain dengan kata menjadi hal yang aku anggap hanya sekadar tugas sekolah.

Sampai suatu hari, Pak Anang, guru sastraku selalu punya cara untuk membuat kamu menulis. Meditasi, mengeluarkan apa yang kami rasakan dalam sebuah kata, hingga mengucapkan satu kata secara spontan.

Aneka tugas mulai dari membuat puisi, musikalisasi puisi, hingga membuat rangkuman karya sastra, membuat aku pelan-pelan jatuh cinta dengan dunia menulis. Bukan hanya suatu pemenuhan tugas sekolah tapi menulis juga menjadi sarana untuk aktualisasi diri, paling nggak itu menurutku.

Dari hanya membaca karya sastra dari angkatan 20an, angkatan Balai Pustaka hingga sastra mbeling, dan menulis aneka puisi, cerpen hingga skenario untuk drama sastra, membuat saya benar-benar jatuh cinta dan memaksakan diri untuk rajin menulis.

Saat kuliah pun begitu. Hampir setiap tugas di Jurusan Jurnalistik membuat saya sering membuat sebuah tulisan. Bedanya, jika di SMA saya banyak menulis fiksi, di Jurnalistik saya membuat tulisan sesuai fakta yang terjadi.

Tugas mingguan untuk apresiasi buku juga memacu saya untuk menulis. Apresiasi yang berisi rangkuman buku, memberikan penilaian terhadap buku, simpulan hingga pertanyaan tentang buku menjadi makanan mingguan yang tak boleh lewat. Okeh, tugas ini memang salah satu tugas yang "apaan sih tiap minggu" buat aku, tapi pada akhirnya aku sendiri sadar, dari tugas ini aku dapat banyak hal. Pertama, jelas ilmu yang didapat dari buku. Kedua, cara kamu menyampaikan apa yang ada di otak kamu tentang suatu hal lewat kata-kata. Ketika, berpikir kritis. Keempat, belajar menghargai karya orang lain.

Dan sekarang, setelah hampir duia tahun lulus dari kuliah, saya sadar, saya kehilangan banget momen saat menulis. Saat harus berpikir untuk mencari kata yang tepat untuk menyampaikan ide, bermain-main dengan kata, bahkan buka kamus besar bahasa Indonesia untuk mencari arti kata yang nggak umum kita pakai.

Saat masih menjadi wartawan, adalah saat yang paling menyenangkan. Gimana nggak, lo kerja dan dibayar untuk pergi ketemu banyak orang dan menulis. Yap, menulis tentang banyak hal. Sampai sekarang, aku masih menganggap jadi wartawan adalah profesi paling menyenangkan. Dapat ilmu, menulis, dapat hal baru, menulis, dam bahagia.

Seenggaknya benar kata salah seorang senior saya di kampus. "Beneran deh, mungkin sekarang kamu benci dengan tugas apresiasi buku setiap minggu dari Pak Sahala. Tapi percaya deh, dengan tugas itu kamu akan membaca banyak hal, dapat ilmu banyak banget yang bahkan mungkin nanti saat kmu kerja, kamu nggak akan sempat untuk cari ilmu dari membaca banyak buku seperti sekarang".

Well, I agree with him. Dan apa yang saya rasa, bukan hanya kehilangan waktu untuk membaca, tapi waktu untuk menulis, seperti yang saya bilang, menulis untuk bisa mencapai aktualisasi diri.

Dan setuju juga dengan Pramoedya, tulisan nggak akang lekang oleh waktu. Karena tulisan kita mengandung pemikiran, ilmu, dan diri kita sendiri.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" - Pramoedya Ananta Toer


So, let's writting!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar