Minggu, 30 Juni 2013

Pada Sebuah Perasaan

Ini bukan tentang mereka. Ini bukan tentang dia.
Ini tentang kita.

Entah berapa ribu hari kita habiskan bersama
Dan entah berapa juta detik kita lewati dengan tawa

Mereka bilang kita berjodoh
Hanya karena kita selalu bersama menghabiskan jutaan detik dan menit selama beribu-ribu hari
Mereka bilang kita sepasang kekasih
Hanya karena kita tak terpisahkan sejak dulu dan tetap bersama hingga sekarang

Dan seperti biasa kita hanya tersenyum
Menganggap itu seperti angin lalu

Lalu mereka datang lagi
Mencoba meraba alam bawah sadar kita
Mereka bilang kita saling mencintai di balik ucapan sanggahan dan tawa kita untuk mereka
Kita hanya diam, salah tingkah, dan tenggelam dalam pikiran masing-masing

Kita tak pernah tahu tentang perasaan dalam jutaan detik dan ribuan hari
Yang kita tahu, kita bersama
Yang kita tahu, kita tertawa
Dan kita saling melengkapi

Ini tentang aku. Ini tentang kamu.
Ini tentang kita.
Tentang sebuah perasaan yang lama tersimpan di antara kita.
Cinta.

-Lala-
Jakarta Juni 2013

Minggu, 09 Juni 2013

Ayo pakai Bahasa Daerah

Dibesarkan dalam keluarga yang sangat jawa, bukan berarti aku bener-bener paham bahasa jawa. Stupid, huh? Hahahaha...

Dari kecil, entah karena pengaruh lingkungan tempat tinggal ato gimana, aku terbiasa pakai bahasa Indonesia padahal mama papa kalo ngobrol pake bahasa jawa. Jadilah aku di rumah ngobrol pake bahasa indonesia.

Dan persoalan bangsa Indonesia adalah terancam punahnya bahasa lokal alias bahasa daerah emang kayaknya bukan main-main. Iya contohnya aku, sodara-sodara.

Ketika mama ato papa ngobrol sama mbah pake bahasa jawa, pasti selalu dari pertanyaan dari aku soal "apa bahasa indonesianya?" Hal ke-tidak-tahu-an bahasa jawa lainnya adalah aku hampir ga pernah dapet nilai bagus untuk pelajaran bahasa jawa. Miris.

Iya miris. Keluarga besar aku adalah jawa tulen, tapi aku gak pernah dapet nilai bagus. Jangankan nilai bagus, kadang aja baca teks bahasa jawa di buku gak tau artinya apa.

Dan hal paling miris lainnya adalah ketika aku bener-bener ada di sekolah negeri. Oke, SD aku di sekolah swasta punya yayasan kantor tempat papa kerja di mana anak-anaknya pake bahasa indonesia dalam berkomunikasi. Dan SMP aku di sekolaj negeri dan ini adalah pertama kalinya aku dapet temen di luar lingkungan tempat kerja papa hahaha..

Di SMP ini bahasa jawa jadi bahasa kedua setelah bahasa indonesia. Hal paling miris yang aku ingat adalah ketika kelas 2 SMP saat istirahat. Lagi di depan kelas ramean dan seorang teman berkata "kantin yuh, kencot". Oke bahasa jawa yang dipake kebanyakan adalah bahasa jawa ngapak di tempat aku.

Dari kalimat teman aku, semuanya meng-iya-kan dan cuma aku yang diem. Sampe akhirnya aku nanya saking gak tau artinya. "Kencot apaan sih artinya?"

Bisa ditebak kejadian selanjutnya. Ngakak semua temen aku. Sampe salah seorang dari mereka nanya

"Lala, kamu di cilacap dari kapan?"

"Dari lahir"

"Terus kamu engga tau kencot itu apa?"

"Engga. Apaan sih artinya?"

"La, serius kamu ga tau? Hahahahahaha"

Miris ya, dari lahir di Cilacap tapi bahasa lokal aja ga tau. Dan akhirnya dia kasih tau kalo kencot itu lapar.

Dan ketika aku baca soal beberapa bahasa daerah terancam punah, kejadian yang aku alami gini langsung flashback. Untuk ngerjain PR bahasa jawa aja aku mengerahkan bala bantuan dari mama papa sampe nelpon mbah.

Mungkin sebagian anak muda menganggap kalo bahasa daerah adalah hal yang kuno. Sebagian lain mungkin terjebak dalam lingkungan yang udah pakai bahasa indonesia kayak aku gini.

Sebenernya bahasa daerah gak kuno kok. Well ini yang aku pelajari dari bahasa jawa selama s
SD dan SMP, soalnya di SMA ga ada bahasa jawa :p

Kamu gak akan di cap kuno, norak ato aneh pake bahasa jawa. It's like your identity. Coba deh ke bandung ato jogja di mana anak mudanya masih banyak yang pake bahasa daerahnya.

Dan bahasa daerah justru bikin akrab sama lingkungan sekitar. Ini aku rasain banget pas aku kuliah di bandung dan magang di jogja.

Bahasa sunda yang simpel aku pake ketika ngobrol sama penjaga kos, penjual warung sebelah, ato pas nyetop angkot hehe..

Bahasa jawa, yah sebagai orang jawa kan malu ya gak bisa bahasa jawa. Jadilah jaman SMA ada temen yang berbaik hati untuk ngajakin ngobrol bahasa jawa jadilah bisa juga akhirnya. Dan ini berguna saat magang.

Saat magang, wawancara ke petani yang sama sekali ga bisa bahasa indonesia dan cuma bisa bahasa jawa akhirnya lancar. Tantangannya adalaj ketika harus pake bahasa jawa kromo inggil dimana itu adalah bahasa jawa alus untuk ngobrol ke orang yang lebih tua. Awalnya patah-patah ngobrolnya. Tapi akhirnya lancar ya walo camour campur dkit pake bahasa jawa ngoko hihihi..

Pengalaman yang aku rasain di jogja itu, jadi wartawan tv lokal dan banyak wawancara dengan warga loka pakai bahasa jawa, bikin aku sadar kalo hal hal yang bersifat kedaerahan bukan hal kuno. Itu kayak bagian dasar dari diri kita. Asal usul kita.

Apalagi pak pemred banyak berbagi ilmu soal jawa. Dari bahasa, keris, tarian. Dan hal ini bikin aku yang dulunya bego banget bahasa jawa jadi suka banget sama bahasa jawa.

Percaya enggak percaya, naskah anchor untuk program berita bahasa jawa kadang aku yang bikin loh. Naskah beritanya jawanua sih ada tim editornya, aku yang bikin naskah jawa untuk bridging anchor dari opening ke berita, dari berita satu ke berita lain, opening dan closingnya.

Awalnya, redpel di tempat aku magang ini gak kasih berita bahasa jawa buat aku urus. Sampe akhirnya dia kayaknya liat perkembangan bahasa jawa aku dan kasih program ini ke aku. Naskahnya pun gitu. Ga langsung dia kasih. Setiap abis aku kerjain naskah jawa, dia selalu nyuruh aku ke pemred untuk cek naskah. Yap karena naskah yang dipake adalah kromo inggil, dan itu adalah level bahasa tersulit, jadi harus cek ulang. Lama-lama redpel aku kasih kepercayaan ke aku untuk nyiapin naskah jawa kromo inggil dalam artian redpel gak ngawasin banget harus pake kata yang ini ato itu, tapi tetep harus cek ke pemred.

Dari situlah pak pemred jadi sering ngajak ngobrol bahasa jawa. Dan ternyata seru loh. Hahaha..

Paling gak, pengalaman magang ini bukan cuma nambah pengalaman jurnaliatik tapi juga pengalaman bahasa jawa dan nyadarin aku kalo berbahasa daerah itu seru dan nunjukin rasa hormat kita ke orang yang lebih tua.

Well, gak usah ragu deh buat belajar bahasa daerah. Gak cuma tau bahasa nya tapi ada nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam setiap bahasa daerah. Itu sih yang aku rasain. Gak cuma ngerti dan bisa bahasa jawa aja, tapi dengan belajar bahasa jawa aku juga tau gimana nilai-nilai yang ada di masyarakat jawa. Dan ini berlaku juga ketika kamu belajar bahasa daerah mana saja.

Jadi ayo belajar bahasa daerah, pakai bahasa daerah, lestarikan dan jaga bahasa daerah kita.

Sugeng ndalu!

Rabu, 05 Juni 2013

Mendengar Bicara

"Tahu kenapa Tuhan menciptakan 2 kuping dan 1 mulut? Supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Supaya kita belajar menghargai orang lain bukan menyombongkan diri."

Pernah dengar kata-kata itu? Aku mendapatkannya dari buku yang aku baca dan membuat aku berhenti sejenak dan berpikir. Ada benarnya karena hampir setiap kata yang keluar dari mulut bisa jadi adalah kesombongan atau kata-kata yang menyinggung orang lain.

Terkadang aku juga berpikir, mungkin kebanyakan dari kita kurang memaksimalkan dua telinga kita. Maksudku, lebih sering mana kamu, curhat atau dicurhati orang lain? Ketika kita curhat kepada teman, saat itulah mulut kita banyak keluar kata-kata. Tapi apa telinga kita mendengarkan kata-kata teman kita saat mereka curhat?

Pernah satu waktu ketika aku masih jadi wartawan, aku mewawancarai salah satu anggota DPRD kota tempat aku kuliah itu. Hal yang aku bicarakan adalah soal jalur sepeda. Di kota itu, jalur sepeda hanya diberi cat dan tak ada pemisah dengan jalur kendaraan lain. Kalau kata aku mah itu berbahaya buat pesepeda karena bisa aja terserempet kendaraan lain.

Hal yang aku tanyakan di tengah wawancara adalah "kenapa sih Pak di sini ga dixoba diterapin jalur khusus sepeda yang pakai pemisah gitu sama jalur kendaraan bermotor kayak di Magelang gitu?"

Pertanyaan itu diajuin bukan tanpa alasan. Karena aku lihat jalur khusus sepeda, becak di magelang lebih aman dan nyaman karena terpisah sama kendaraan motor. Jadi itu adalah semacam pertanyaan yang juga untuk masukan. Karena sebagai bagian dari kota itu dan pemakai jalan, rada serem juga kan ketika lagi berkendara terus jalanan ramai dan nyerempet orang yang lagi sepedaan.

Jawaban dari sang anggota DPRD cukup bikin kaget lho. Dia menjawab dengan nada yang meninggi dan bilang "itu kab magelang, ini di Bandung. Beda dong. Magelang ya magelang, jangan samain sama Bandung dong."
Well, sebenernya kaget loh jawaban seperti itu keluar dari mulut seorang anggota DPRD. Kalau aku melihatnya sebagai narasumber itu adalah hal wajar narasumber menjawab pertanyaan wartawan dengan nada yang gak sante.

Dalam otak aku saat itu adalah, bagaimana bisa seorang petinggi di kota itu menjawab sebuah masukan dengan jawaban yang, kalau kata aku, gak bijaksana. Mmm semacam menolak masukan yang datang tanpa mengkajinya terlebih dahulu.

Mungkin pertanyaan yang aku ajukan salah juga ya, atau mungkin terlalu sensitif. Tapi apapun itu aku belajar kalau ternyata banyak dari kita yg masih menggunakan mulut lebih banyak daripada telinganya. Terkadang kita lebih banyak mengikuti kemauan yang keluar dari mulut kita daripada mendengarkan masukan dari sekitar kita.

Mungkin aku pun terlalu kurang peka sehingga mengeluarkan pertanyaan dari mulutku yang bikin sang bapak DPRD sakit hati.

Apapun itu paling nggak aku belajar, hati-hati mengeluarkan kata dari mulutmu dan banyaklah mendengar orang disekitarmu, sebagaimana kamu ingin didengar orang.

Cheeerss...

Selasa, 04 Juni 2013

Jika tak ada 'Kalau'

Orang bilang kalau adalah penyesalan
Kalau bagian masa lalu

Tangis penyesalan selalu diikuti
Kalau saja aku tak begitu
Kalau saja aku tak begini

Orang bilang kalau itu menjual mimpi
Mimpi yang belum jelas kapan terwujud, katanya

Dia yang terdiam di ujung sana berbicara pelan
Kalau saja aku kaya
Kalau saja aku bisa melakukan semua yang aku mau

Orang bilang kalau tak nyata
Tidak ada di realita
Kalau hanya ada di angan

Tapi kalau tidak sesepele itu

Jika tak ada ada kalau
Bagaimana kau mempertimbangkan berbagai hal
Jika tak ada kalau
Dari mana kau belajar tentang prioritas
Jika tak ada kalau
Dari mana kau memacu dirimu mewujudkan impian
Jika tak ada kalau
Bagaimana kau lari dari realita

Jakarta, Juni 2013

Senin, 03 Juni 2013

Ayo Menulis!

"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." - Pramoedya Ananta Toer

Sejak kelas 2 SMA, menulis menjadi suatu bagian dalam kehidupanku. Dan aku menganggapnya sebagai suatu konsekuensi dari pilihanku masuk jurusan Bahasa. Seminggu 4 hari selalu ada pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia. Bermain dengan kata menjadi hal yang aku anggap hanya sekadar tugas sekolah.

Sampai suatu hari, Pak Anang, guru sastraku selalu punya cara untuk membuat kamu menulis. Meditasi, mengeluarkan apa yang kami rasakan dalam sebuah kata, hingga mengucapkan satu kata secara spontan.

Aneka tugas mulai dari membuat puisi, musikalisasi puisi, hingga membuat rangkuman karya sastra, membuat aku pelan-pelan jatuh cinta dengan dunia menulis. Bukan hanya suatu pemenuhan tugas sekolah tapi menulis juga menjadi sarana untuk aktualisasi diri, paling nggak itu menurutku.

Dari hanya membaca karya sastra dari angkatan 20an, angkatan Balai Pustaka hingga sastra mbeling, dan menulis aneka puisi, cerpen hingga skenario untuk drama sastra, membuat saya benar-benar jatuh cinta dan memaksakan diri untuk rajin menulis.

Saat kuliah pun begitu. Hampir setiap tugas di Jurusan Jurnalistik membuat saya sering membuat sebuah tulisan. Bedanya, jika di SMA saya banyak menulis fiksi, di Jurnalistik saya membuat tulisan sesuai fakta yang terjadi.

Tugas mingguan untuk apresiasi buku juga memacu saya untuk menulis. Apresiasi yang berisi rangkuman buku, memberikan penilaian terhadap buku, simpulan hingga pertanyaan tentang buku menjadi makanan mingguan yang tak boleh lewat. Okeh, tugas ini memang salah satu tugas yang "apaan sih tiap minggu" buat aku, tapi pada akhirnya aku sendiri sadar, dari tugas ini aku dapat banyak hal. Pertama, jelas ilmu yang didapat dari buku. Kedua, cara kamu menyampaikan apa yang ada di otak kamu tentang suatu hal lewat kata-kata. Ketika, berpikir kritis. Keempat, belajar menghargai karya orang lain.

Dan sekarang, setelah hampir duia tahun lulus dari kuliah, saya sadar, saya kehilangan banget momen saat menulis. Saat harus berpikir untuk mencari kata yang tepat untuk menyampaikan ide, bermain-main dengan kata, bahkan buka kamus besar bahasa Indonesia untuk mencari arti kata yang nggak umum kita pakai.

Saat masih menjadi wartawan, adalah saat yang paling menyenangkan. Gimana nggak, lo kerja dan dibayar untuk pergi ketemu banyak orang dan menulis. Yap, menulis tentang banyak hal. Sampai sekarang, aku masih menganggap jadi wartawan adalah profesi paling menyenangkan. Dapat ilmu, menulis, dapat hal baru, menulis, dam bahagia.

Seenggaknya benar kata salah seorang senior saya di kampus. "Beneran deh, mungkin sekarang kamu benci dengan tugas apresiasi buku setiap minggu dari Pak Sahala. Tapi percaya deh, dengan tugas itu kamu akan membaca banyak hal, dapat ilmu banyak banget yang bahkan mungkin nanti saat kmu kerja, kamu nggak akan sempat untuk cari ilmu dari membaca banyak buku seperti sekarang".

Well, I agree with him. Dan apa yang saya rasa, bukan hanya kehilangan waktu untuk membaca, tapi waktu untuk menulis, seperti yang saya bilang, menulis untuk bisa mencapai aktualisasi diri.

Dan setuju juga dengan Pramoedya, tulisan nggak akang lekang oleh waktu. Karena tulisan kita mengandung pemikiran, ilmu, dan diri kita sendiri.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" - Pramoedya Ananta Toer


So, let's writting!!