Sabtu, 27 Juli 2013

Takut Berita

Ketika jaman kuliah dulu, salah satu bahasan di hampir seluruh mata kuliah adalah berita memberikan rasa takut dan tidak nyaman bagi masyarakat. Kok berita? Iya, karena saya kuliah di jurusan jurnalistik. Kok bisa memberikan rasa takut dan tak nyaman? Karena isi beritanya.

Ya, isi berita rupanya bisa memberikan rasa takut dan tak nyaman bagi masyarakat. Kalo dulu di kuliah sih, kita para calon wartawan (disebut gitu karwna kuliah di jurnalistik) harus hati-hati dalam menulis berita, baik dari angle berita ataupun bahasa jurnalistiknya. Kalau salah, bisa-bisa menimbulkan takut dan tak nyaman.

Contohnya ketika dulu ada berita kolor ijo. Karena terus diekspos dan disampaikan dengan kurang baik, yang terjadi di masyarakat adalah mereka takut dan nggak nyaman. Parahnya ada yang memanfaatkan ini untuk hal-hal yang nggak baik seperti pura-pura jadi kolor ijo demi menguras harta seseorang.

Well, dulu jaman kuliah dan ketika membahas persoalan sebuah berita bisa bikin rasa takut dan nggak nyaman, setengah dari diri saya merasa hal seperti ini adalah hal yang berlebihan. Saya, ketika masa itu, berpikir bagaimana bisa sebuah berita yang berdasar data dan fakta malah bikin takut?

Sampai akhirnya ketika saya menjadi wartawan saya belum menemukan jawaban nyata dari pertanyaan saya itu. Untungnya saat jadi wartawan saya pegang desk lifestyle, kuliner, wisata, dan hotel. Desk yang menurut saya adalah desk hura-hura karena liputannya udan bikin saya main sambil kerja dan beritanya adalah feature news. Mentok-mentok bikin hardnews ya di desk hotel.

Dan jawaban dari pertanyaan saya soal berita bisa bikin takut dan tak nyaman itu akhirnya saya dapatkan. Jawabannya saya dapat justru ketika saya tidak lagi menjadi wartawan. Iya, akhirnya saya sendiri yang merasakan bahwa berita bisa menimbulkan rasa takut, tak aman, tak nyaman di nasyarakat. Saya punya rasa takut itu terhadap berita.

Bagaimana bisa, saya yang dulu berkutat pemberitaan dari mulai cari isu, getting news ke sana ke sini, nulis, mantau berita dan lain-lain, bisa sampai punya rasa takut terhadap berita? Ini yang saya juga belum tau.

Jadi, rasa takut terhadap berita itu ternyata rasanya adalah bikin saya menghindar dari membaca berita. Okay saya spesifikasiin ya. Berita yang saya hindari adalah berita dari online terutama berita dari satu situs online yang terkenal di masyarakat. Kenapa saya hindari? Karena saya takut baca berita di situs online itu.

Karena saya terbiasa dengan hatus update berita setiap hari (kebiasaan dari jaman kuliah dan jaman jadi wartawan dulu yang kebawa sampe sekarang), setiap pagi saya baca berita di salah satu situs berita online terbesar. Dan entah kenapa berita pagi di online tersebut didominasi oleh berita kecelakaan dan kriminal. Berita-berita yang justru membuat saya takut dan nggak nyaman. Berita yang kalau saya masuk tol atau naik kendaraan apapun tiba-tiba membuat saya berpikir "aduh aman nggak ya ini lewat jalan tol? Aman nggak ya kalau saya naik bus atau kereta?". Pun dengan berita kriminal. Sangat sering loh saya punya ketakutan seperti "aduh pencurian di sana jangan-jangan bisa ke sini? Aduh nanti kalau saya pulang naik angkot gimana ya, aman ngga ya?".

Dari apa yang saya rasakan itu, desk berita kriminal sangat-sangat memberikan rasa takut untuk saya. Makanya sekarang saya mengurangi intensitas saya untuk baca berita di situs online tersebut. Dan saya nggak pernah menyangka, rasa takut dari berita ternyata separah ini.

Beruntungnya saya, dua media cetak tempat saya bekerja dulu tidak ada desk kriminal atau kecelakaan. Kalau ada pasti ada kemungkinan saya ditempatkan di desk itu dan justru bisa bikin saya takut untuk meliput berita karena nggak nyaman.

Oh kalau kata dosen saya dulu sih, untuk menghindari rasa takut dan tidak nyaman berita harus dikemas apik. Dengan bahasa yang baik, seperti yang saya bilang tadi. Selain itu juga bisa dengan memposisikan berita atau kalau dalam media cetak dengan rubrikasi berita yang tepat.

Berita kriminal dalam media cetak nggak mungkin ditaruh di halaman-halaman awal kan? Berita kriminal biasanya ditaruh di halaman-halaman akhir supaya pembaca tidak takut duluan ketika buka majalah. Sama halnya dengan berita online. Bisa kan media online ini tidak memunculkan berota kriminal dan kecelakaan semalam di awal berita pagi?

Ada baiknya admin media online menaruh berita translate (istilah berita yang diambil dari media luar negeri dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, istilah kantor saya dulu di media online) tentang kesehatan, manfaat buah, atau feature news tentang traveling atau ramadhan dan hal yang jadi obrolan masyarakat untuk di berita awal di pagi hari. Tujuannya seperti majalah itu, supaya pembaca tidak lari ketakutan karena berita yang muncul pertama menyeramkan.

Jadi, ada yang punya rasa takut dan nggak nyaman terhadap berita?

Psst, that's why saya lebih milih untuk nulis dengan feature news dengan topik yang full entertain, saya nggak mau bikin takut masyarakat.

Selasa, 23 Juli 2013

Selamat Hari Anak Nasional

Esensi Hari Anak Nasional

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SD, setiap tanggal 22 Juli ada aneka macam lomba untuk memperingati Hari Anak Nasional. Kalau yang nggak ikutan lomba ya ikutan kasih semangat untuk yang lomba atau main di kebun sekolah kayak saya ini.

Satu-satunya yang saya ingat dari perlombaan yang saya ikuti pas Hari Anak Nasional adalah lomba masukin air dari ember ke galon pake gelas secara tim. Hasilnya tim saya kalah dan beda tipis banget sama tim menang. Selebihnya yang saya ingat adalah hura-hura, ketawa dan main sepuas hati, pulang cepat.

Dan sekarang saya mikir, emang cuma hanya itu ya esensi Hari Anak Nasional? Kok, saya yang waktu itu masih menjadi seorang anak (di bawah 18 tahun ya), cuma ngerasain kalo Hari Anak hanya sebatas seremonial saja. Nggak lebih. Dari apa yang saya rasain tiap peringatan hari anak dari kelas 1 sampai 6 SD, saya nggak tahu loh kenapa ada Hari Anak, apa esensinya. tujuannya apa. Beneran nggak tau.

Sampai akhirnya beberapa menit lalu saya tau kenapa ada peringatan Hari Anak Nasional. Dari situs Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia www.ykai.net, dijelasin kalau Peringatan Hari Anak Nasional untuk menumbuhkan kepedulian dan partisipasi bangsa Indonesia untuk menghargai dan menjamin hak anak tanpa membedakan, memberikan yang terbaik untuk anak, menjamim semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Selain itu peringatan Hari Anak Nasional juga untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran anak akan hak, kewajiban, dan tanggung jawab kepada orang tua, masyarakat, serta bangsa dan negara.

Well, kalau dilihat dari penjabaran yang dijelasin situs Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia itu, apa yang saya lakuin tiap peringan HAN di bangku SD itu emang nggak nyampe untuk dapet esensi dari peringatan HAN.

Peringatan HAN untuk meningkatan kesadaran anak akan hak, kewajiban dan tanggung jawab kepada orang tua, masyarakat serta bangsa dan negara. Asli loh, ketika pulang sekolah sehabis perayaan HAN di sekolah, yang saya ngerti adalah saya baru saja having fun di sekolah dengan aneka lomba dengan teman-teman. Agak miris memang saya sama diri sendiri yang nggak paham soal HAN.

Masih ada nggak sih sekolah-sekolah sekarang yang memperingati Hari Anak Nasional dengan aneka perlombaan? Semoga nggak deh ya.

Ada banyak cara untuk peringatan HAN agar anak lebih mengerti. Misal, bisa saja kan sekolah, terutama SD, mengajak anak-anak jalanan yang nggak mampu bersekolah untuk datang ke sekolah pada Hari Anak, kemudian murid dan anak jalanan ini belajar bersama. Menurut saya, cara ini lebih mampu menggugah anak-anak untuk tau kalau hak anak adalah sekolah, bukan berkeliaran mencari uang di jalanan.

Atau bisa saja sekolah-sekolah ini mengajak muridnya untuk berkunjung ke panti jompo untuk membantu para manula di sana. Paling tidak hal ini bisa membantu anak-anak untuk menyadari mereka harus berbakti kepada orang tua dan menyadarkan bahwa mereka adalah generasi muda untuk meneruskan bangsa ini.

Dari dua hal simple tersebut, menurut saya, anak-anak juga akan paham kok kenapa diadakan Hari Anak Nasional. Bukan karena mereka adalah seorang anak yang harus dimanjakan dan diberikan hal-hal menyenangkan. Tapi karena mereka anak yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Saya rasa, dua hal simple itu akan sampai esensi Hari Anak bahkan anak 6 tahun juga pasti akan mengerti.


Pendidikan Anak Indonesia

Awal Juni lalu, saya mendapatkan sebuah message dari teman saya yang isinya adalah tawaran bagi saya untuk mengajar secara sukarela di sebuah sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu, Sekolah Master Depok. Saya ditawari untuk mengajar Jurnalistik seminggu sekali tanpa dibayar. Hal pertama yang saya lakukan adalah saya mencari tahu sekolah yang dimaksud oleh teman saya. Rupanya sekolah tersebut di bawah naungan sebuah yayasan yang menggratiskan biaya sekolah untuk murid-muridnya.

Murid di sekolah ini rupanya adalah para anak jalanan yang kebanyakan berasal dari terminal dekat sekolah. Mereka sekolah di sini bebas biaya sama sekali dan mereka juga bisa mengambil kelas-kelas sesuai keinginan mereka, sebut saja kelas wirausaha, kelas musik, atau kelas jurnalistik.

Saya cukup amazing ketika tahu tentang sekolah ini dan masalah utama yang dihadapi sekolah ini saat ini, soal penggusuran sekolah. Sekolah ini adalah sekolah hebat. Bagaimana tidak, sekolah ini sudah menampung dan memberikan pendidikan gratis bagi ribuan anak jalanan dan hasilnya para anak jalanan ini ada yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke universitas negeri, bahkan tiap tahunnya ada anak yang mendapat beasiswa ke luar negeri.

Dan hal paling memprihatinkan adalah soal penggusuran sekolah. Sekolah yang sudah melahirkan banyak sekali anak-anak hebat justru malah terancam digusur karena akan dibangun apartemen yang justru akan menguntungkan satu pihak, bukan anak-anak. Kalau dilihat dari esensi Hari Anak Nasional, seharusnya hal ini jangan sampai terjadi dong. Katanya Hari Anak Nasional untuk menyadarkan hak anak, katanya Hari Anak Nasional untuk memperlakukan semua anak secara sama rata tanpa diskriminatif, katanya Hari Anak Nasional untuk mengingatkan jaminan keberlangsungan hidup anak.

Dari contoh satu sekolah itu, masih banyak esensi dari Hari Anak yang belum terwujud. Jangankan terwujud, tercapai saja belum. Apakah karena sekolah itu gratis dan anak jalanan yang bersekolah di situ kemudian sekolah akan digusur untuk kepentingan pihak bermodal? Ada diskriminasi anak dong di dalamnya.

Cobalah untuk pahami poin keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang bukan hanya makan dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Pendidikan adalah hal yang penting bagi keberlangsungan hidup sang anak. Jadi bayangkan bila pendidikan tidak diterima anak, bagaimana masa depan anak-anak Indonesia, bagaimana masa depan bangsa dan negara ini.

Bukan hanya di sekolah ini saja. Masih banyak kok hak anak berupa pendidikan layak yang belum terpenuhi. Masih banyak sekolah di pedalaman Indonesia yang kelasnya hanya terbuat dari papan-papan bahkan kelas satu dengan kelas lain digabung karena terbatas ruang kelas. Masih banyak anak-anak Indonesia yang belum mendapatkan haknya. Hak rasa aman, masih banyak anak-anak Indonesia yang disiksa untuk bekerja. Dan masih ada setumpuk hak lain untuk anak Indonesia yang terabaikan.

Seharusnya Peringatan Hari Anak Nasional bukan hanya diucapkan oleh para pemerintah atau siapapun dengan mengucapkan "Selamat Hari Anak Nasional" atau mengadakan aneka lomba. Pemenuhan hak-hak anak dan menyadarkan kepada orang tua akan hak anak lah yang menurut saya seharusnya dilakukan di Hari Anak.

Memberikan beasiswa atau menggratiskan biaya sekolah agar anak-anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya dan anak-anak yang tidak bersekolah karena mahalnya sekolah bisa kembali mengenyam pendidikan. Bagi saya, itulah hal yang paling berharga sebagai hadiah di Hari Anak Nasional.

Semoga anak Indonesia terpenuhi hak pendidikannya dan segala hak lainnya, serta tak melupakan kewajibannya untuk orangtua dan bangsa. Dan semoga Hari Anak Nasional ini bukan hanya sebagai peringatan semata, tapi kita semua mengerti akan esensinya.



Jakarta, 23 Juli 2013