Ketika jaman kuliah dulu, salah satu bahasan di hampir seluruh mata kuliah adalah berita memberikan rasa takut dan tidak nyaman bagi masyarakat. Kok berita? Iya, karena saya kuliah di jurusan jurnalistik. Kok bisa memberikan rasa takut dan tak nyaman? Karena isi beritanya.
Ya, isi berita rupanya bisa memberikan rasa takut dan tak nyaman bagi masyarakat. Kalo dulu di kuliah sih, kita para calon wartawan (disebut gitu karwna kuliah di jurnalistik) harus hati-hati dalam menulis berita, baik dari angle berita ataupun bahasa jurnalistiknya. Kalau salah, bisa-bisa menimbulkan takut dan tak nyaman.
Contohnya ketika dulu ada berita kolor ijo. Karena terus diekspos dan disampaikan dengan kurang baik, yang terjadi di masyarakat adalah mereka takut dan nggak nyaman. Parahnya ada yang memanfaatkan ini untuk hal-hal yang nggak baik seperti pura-pura jadi kolor ijo demi menguras harta seseorang.
Well, dulu jaman kuliah dan ketika membahas persoalan sebuah berita bisa bikin rasa takut dan nggak nyaman, setengah dari diri saya merasa hal seperti ini adalah hal yang berlebihan. Saya, ketika masa itu, berpikir bagaimana bisa sebuah berita yang berdasar data dan fakta malah bikin takut?
Sampai akhirnya ketika saya menjadi wartawan saya belum menemukan jawaban nyata dari pertanyaan saya itu. Untungnya saat jadi wartawan saya pegang desk lifestyle, kuliner, wisata, dan hotel. Desk yang menurut saya adalah desk hura-hura karena liputannya udan bikin saya main sambil kerja dan beritanya adalah feature news. Mentok-mentok bikin hardnews ya di desk hotel.
Dan jawaban dari pertanyaan saya soal berita bisa bikin takut dan tak nyaman itu akhirnya saya dapatkan. Jawabannya saya dapat justru ketika saya tidak lagi menjadi wartawan. Iya, akhirnya saya sendiri yang merasakan bahwa berita bisa menimbulkan rasa takut, tak aman, tak nyaman di nasyarakat. Saya punya rasa takut itu terhadap berita.
Bagaimana bisa, saya yang dulu berkutat pemberitaan dari mulai cari isu, getting news ke sana ke sini, nulis, mantau berita dan lain-lain, bisa sampai punya rasa takut terhadap berita? Ini yang saya juga belum tau.
Jadi, rasa takut terhadap berita itu ternyata rasanya adalah bikin saya menghindar dari membaca berita. Okay saya spesifikasiin ya. Berita yang saya hindari adalah berita dari online terutama berita dari satu situs online yang terkenal di masyarakat. Kenapa saya hindari? Karena saya takut baca berita di situs online itu.
Karena saya terbiasa dengan hatus update berita setiap hari (kebiasaan dari jaman kuliah dan jaman jadi wartawan dulu yang kebawa sampe sekarang), setiap pagi saya baca berita di salah satu situs berita online terbesar. Dan entah kenapa berita pagi di online tersebut didominasi oleh berita kecelakaan dan kriminal. Berita-berita yang justru membuat saya takut dan nggak nyaman. Berita yang kalau saya masuk tol atau naik kendaraan apapun tiba-tiba membuat saya berpikir "aduh aman nggak ya ini lewat jalan tol? Aman nggak ya kalau saya naik bus atau kereta?". Pun dengan berita kriminal. Sangat sering loh saya punya ketakutan seperti "aduh pencurian di sana jangan-jangan bisa ke sini? Aduh nanti kalau saya pulang naik angkot gimana ya, aman ngga ya?".
Dari apa yang saya rasakan itu, desk berita kriminal sangat-sangat memberikan rasa takut untuk saya. Makanya sekarang saya mengurangi intensitas saya untuk baca berita di situs online tersebut. Dan saya nggak pernah menyangka, rasa takut dari berita ternyata separah ini.
Beruntungnya saya, dua media cetak tempat saya bekerja dulu tidak ada desk kriminal atau kecelakaan. Kalau ada pasti ada kemungkinan saya ditempatkan di desk itu dan justru bisa bikin saya takut untuk meliput berita karena nggak nyaman.
Oh kalau kata dosen saya dulu sih, untuk menghindari rasa takut dan tidak nyaman berita harus dikemas apik. Dengan bahasa yang baik, seperti yang saya bilang tadi. Selain itu juga bisa dengan memposisikan berita atau kalau dalam media cetak dengan rubrikasi berita yang tepat.
Berita kriminal dalam media cetak nggak mungkin ditaruh di halaman-halaman awal kan? Berita kriminal biasanya ditaruh di halaman-halaman akhir supaya pembaca tidak takut duluan ketika buka majalah. Sama halnya dengan berita online. Bisa kan media online ini tidak memunculkan berota kriminal dan kecelakaan semalam di awal berita pagi?
Ada baiknya admin media online menaruh berita translate (istilah berita yang diambil dari media luar negeri dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, istilah kantor saya dulu di media online) tentang kesehatan, manfaat buah, atau feature news tentang traveling atau ramadhan dan hal yang jadi obrolan masyarakat untuk di berita awal di pagi hari. Tujuannya seperti majalah itu, supaya pembaca tidak lari ketakutan karena berita yang muncul pertama menyeramkan.
Jadi, ada yang punya rasa takut dan nggak nyaman terhadap berita?
Psst, that's why saya lebih milih untuk nulis dengan feature news dengan topik yang full entertain, saya nggak mau bikin takut masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar