Seberapa sering kamu denger kalimat "Manusia itu makhluk dinamis. Dia selalu berubah dan nggak statis"? Dan seberapa dalam kamu memahami kalimat itu? Saya sendiri memahami kalimat itu setelah saya sendiri yang merasakan hal ini.
Liburan weekend kemarin sempet membuat saya kaget. Banget. Dan berpikir, saya terlalu naif menganggap semua teman saya masih sama seperti terakhir saya bertemu mereka. Karena mereka dinamis. Mereka berubah, bertemu dengan orang-orang, kemudian menerima dan menolak hal-hal dari banyak orang, lalu semua itu membentuk teman-teman saya menjadi sosok baru. Saya aja yang masih naif. Paling nggak sampai hari di mana saya bertemu mereka, weekend kemarin.
Bukan, bukan, saya bukan mau cerita hal apa yang membuat saya shock bertemu teman-teman saya weekend kemarin. Saya hanya mau menuangkan pikiran saya aja soal manusia yang bersifat dinamis itu. Paling nggak, sekarang saya mulai sedikit memikirkan kalimat itu bukan hanya sekedar mengucapkan kalimat itu atau membacanya dari buku-buku.
Menurut saya, manusia sebagai makhluk dinamis itu benar adanya. Kenapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia gak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Percaya deh, seberapa egoisnya, seberapa sombongnya orang, dia pasti butuh orang lain untuk hidup. Simpelnya, kayak saya ini. Kalo kata ibu saya, saya kelewat cuek sama orang, tapi bagaimana pun juga saya butuh orang lain untuk ingetin saya jangan terlalu cuek. Iya, saya butuh ibu saya.
Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, entah itu komunikasi langsung atau tak langsung, itu pasti memberikan pengaruh ke kita. Intensitas kita dalam bertemu dan berkomunikasi dengan orang ikut mempengaruhi perubahan dalam diri kita. Cara orang lain berbicara atau memperlakukan kita, sedikit banyak juga ikut mempengaruhi cara kita bicara. Atau bahkan ketika kita ngobrol dan bertukar pendapat dengan orang, pikiran orang lain sedikit banyak pun ikut berpengaruh dalam cara berpikir kita.
Inilah yang saya bilang perubahan dalam diri seseorang dipengaruhi oleh komunikasi seseorang. Well, saya gak akan ngejelasin soal komunikasi, karena itu akan sama aja kayak kuliah dulu.
Jadi ketika saya mulai sedikit shock dengan perubahan drastis teman saya saat itu, saya sadar kalau selama jeda waktu kami jarang pergi atau ngumpul bersama, dia bertemu banyak orang. Dia bertemu dengan berbagai macam orang yang beraneka macam, dan itulah yang akhirnya berada di proses "penerimaan" dan "penolakan" dari orang-orang di sekitarnya.
Dan ketika saya bertemu dengan teman saya, proses "penerimaan" dan "penolakan" itu pun ada dalam diri saya. Saya bisa menerima atau menolak sikap baru teman saya. Keputusan untuk menerima dan menolak itu balik lagi ke diri masing-masing, kalau menurut saya sih keputusan itu berdasarkan sesuai atau tidaknya dengan prinsip dan tujuan dalam diri kita masing-masing.
Ketika kita memutuskan untuk menerima hal baru dari orang-orang di sekitar kita, maka tidak akan ada masalah dalam komunikasi. Respon yang ada adalah tindakan positif karena kita menerima, setuju, dan bisa jadi kita akan mengikuti hal baru yang kita dapat dari orang lain.
Lain halnya jika menolak hal baru yang datang ke kita. Misal, orang di sekitar kita menyukai musik beat kencang, dan setiap hari kita mendengar musik itu. Respon yang terjadi adalah kita menjadi suka atau kita tetap bertahan untuk menolak. Jika menolak, berarti akan ada konflik dalam komunikasi (bukan konflik berarti lo ribut ya), di mana kita tidak menerima hal baru tersebut. Jika diatasi dengan baik maka semua akan baik-baik saja. Lalu kalau gak baik-baik gimana? Bisa jadi kita beneran ribut sama teman kita, atau bahkan kita yang akan meninggalkan teman-teman kita.
Kalau dalam soal saya dan sikap baru teman saya, adalah saya menolak sikap dan pola pikir teman saya ini, tapi saya berusaha mengatasi konflik komunikasi yang ada. Konflik komunikasi yang ada adalah saya tidak sepakat dengan tindakan yang diambil oleh teman saya, saya tidak sepakat dengan sikap dan pola pikirnya. Tapi,saya berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik dengan teman saya ini. Well, yang saya lakukan adalah saya menunjukkan bahwa diri saya tidak menyukai dengan pola pikir dia, saya mengatakannya kepada teman saya, tapi saya tetap menjadi temannya. Ketika dia mengeluarkan pola pikirnya yang tidak sepaham dengan saya atau sikap yang tidak sesuai dengan visi saya, maka saya akan berusaha menolak dengan alasan yang jelas.
Well, sekali lagi, people do changes. Tinggal kitanya aja gimana menyikapi setiap perubahan-perubahan itu. Gimana kita menyaring itu semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar