Esensi Hari Anak Nasional
Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SD, setiap tanggal 22 Juli ada aneka macam lomba untuk memperingati Hari Anak Nasional. Kalau yang nggak ikutan lomba ya ikutan kasih semangat untuk yang lomba atau main di kebun sekolah kayak saya ini.
Satu-satunya yang saya ingat dari perlombaan yang saya ikuti pas Hari Anak Nasional adalah lomba masukin air dari ember ke galon pake gelas secara tim. Hasilnya tim saya kalah dan beda tipis banget sama tim menang. Selebihnya yang saya ingat adalah hura-hura, ketawa dan main sepuas hati, pulang cepat.
Dan sekarang saya mikir, emang cuma hanya itu ya esensi Hari Anak Nasional? Kok, saya yang waktu itu masih menjadi seorang anak (di bawah 18 tahun ya), cuma ngerasain kalo Hari Anak hanya sebatas seremonial saja. Nggak lebih. Dari apa yang saya rasain tiap peringatan hari anak dari kelas 1 sampai 6 SD, saya nggak tahu loh kenapa ada Hari Anak, apa esensinya. tujuannya apa. Beneran nggak tau.
Sampai akhirnya beberapa menit lalu saya tau kenapa ada peringatan Hari Anak Nasional. Dari situs Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia www.ykai.net, dijelasin kalau Peringatan Hari Anak Nasional untuk menumbuhkan kepedulian dan partisipasi bangsa Indonesia untuk menghargai dan menjamin hak anak tanpa membedakan, memberikan yang terbaik untuk anak, menjamim semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Selain itu peringatan Hari Anak Nasional juga untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran anak akan hak, kewajiban, dan tanggung jawab kepada orang tua, masyarakat, serta bangsa dan negara.
Well, kalau dilihat dari penjabaran yang dijelasin situs Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia itu, apa yang saya lakuin tiap peringan HAN di bangku SD itu emang nggak nyampe untuk dapet esensi dari peringatan HAN.
Peringatan HAN untuk meningkatan kesadaran anak akan hak, kewajiban dan tanggung jawab kepada orang tua, masyarakat serta bangsa dan negara. Asli loh, ketika pulang sekolah sehabis perayaan HAN di sekolah, yang saya ngerti adalah saya baru saja having fun di sekolah dengan aneka lomba dengan teman-teman. Agak miris memang saya sama diri sendiri yang nggak paham soal HAN.
Masih ada nggak sih sekolah-sekolah sekarang yang memperingati Hari Anak Nasional dengan aneka perlombaan? Semoga nggak deh ya.
Ada banyak cara untuk peringatan HAN agar anak lebih mengerti. Misal, bisa saja kan sekolah, terutama SD, mengajak anak-anak jalanan yang nggak mampu bersekolah untuk datang ke sekolah pada Hari Anak, kemudian murid dan anak jalanan ini belajar bersama. Menurut saya, cara ini lebih mampu menggugah anak-anak untuk tau kalau hak anak adalah sekolah, bukan berkeliaran mencari uang di jalanan.
Atau bisa saja sekolah-sekolah ini mengajak muridnya untuk berkunjung ke panti jompo untuk membantu para manula di sana. Paling tidak hal ini bisa membantu anak-anak untuk menyadari mereka harus berbakti kepada orang tua dan menyadarkan bahwa mereka adalah generasi muda untuk meneruskan bangsa ini.
Dari dua hal simple tersebut, menurut saya, anak-anak juga akan paham kok kenapa diadakan Hari Anak Nasional. Bukan karena mereka adalah seorang anak yang harus dimanjakan dan diberikan hal-hal menyenangkan. Tapi karena mereka anak yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Saya rasa, dua hal simple itu akan sampai esensi Hari Anak bahkan anak 6 tahun juga pasti akan mengerti.
Pendidikan Anak Indonesia
Awal Juni lalu, saya mendapatkan sebuah message dari teman saya yang isinya adalah tawaran bagi saya untuk mengajar secara sukarela di sebuah sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu, Sekolah Master Depok. Saya ditawari untuk mengajar Jurnalistik seminggu sekali tanpa dibayar. Hal pertama yang saya lakukan adalah saya mencari tahu sekolah yang dimaksud oleh teman saya. Rupanya sekolah tersebut di bawah naungan sebuah yayasan yang menggratiskan biaya sekolah untuk murid-muridnya.
Murid di sekolah ini rupanya adalah para anak jalanan yang kebanyakan berasal dari terminal dekat sekolah. Mereka sekolah di sini bebas biaya sama sekali dan mereka juga bisa mengambil kelas-kelas sesuai keinginan mereka, sebut saja kelas wirausaha, kelas musik, atau kelas jurnalistik.
Saya cukup amazing ketika tahu tentang sekolah ini dan masalah utama yang dihadapi sekolah ini saat ini, soal penggusuran sekolah. Sekolah ini adalah sekolah hebat. Bagaimana tidak, sekolah ini sudah menampung dan memberikan pendidikan gratis bagi ribuan anak jalanan dan hasilnya para anak jalanan ini ada yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke universitas negeri, bahkan tiap tahunnya ada anak yang mendapat beasiswa ke luar negeri.
Dan hal paling memprihatinkan adalah soal penggusuran sekolah. Sekolah yang sudah melahirkan banyak sekali anak-anak hebat justru malah terancam digusur karena akan dibangun apartemen yang justru akan menguntungkan satu pihak, bukan anak-anak. Kalau dilihat dari esensi Hari Anak Nasional, seharusnya hal ini jangan sampai terjadi dong. Katanya Hari Anak Nasional untuk menyadarkan hak anak, katanya Hari Anak Nasional untuk memperlakukan semua anak secara sama rata tanpa diskriminatif, katanya Hari Anak Nasional untuk mengingatkan jaminan keberlangsungan hidup anak.
Dari contoh satu sekolah itu, masih banyak esensi dari Hari Anak yang belum terwujud. Jangankan terwujud, tercapai saja belum. Apakah karena sekolah itu gratis dan anak jalanan yang bersekolah di situ kemudian sekolah akan digusur untuk kepentingan pihak bermodal? Ada diskriminasi anak dong di dalamnya.
Cobalah untuk pahami poin keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang bukan hanya makan dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Pendidikan adalah hal yang penting bagi keberlangsungan hidup sang anak. Jadi bayangkan bila pendidikan tidak diterima anak, bagaimana masa depan anak-anak Indonesia, bagaimana masa depan bangsa dan negara ini.
Bukan hanya di sekolah ini saja. Masih banyak kok hak anak berupa pendidikan layak yang belum terpenuhi. Masih banyak sekolah di pedalaman Indonesia yang kelasnya hanya terbuat dari papan-papan bahkan kelas satu dengan kelas lain digabung karena terbatas ruang kelas. Masih banyak anak-anak Indonesia yang belum mendapatkan haknya. Hak rasa aman, masih banyak anak-anak Indonesia yang disiksa untuk bekerja. Dan masih ada setumpuk hak lain untuk anak Indonesia yang terabaikan.
Seharusnya Peringatan Hari Anak Nasional bukan hanya diucapkan oleh para pemerintah atau siapapun dengan mengucapkan "Selamat Hari Anak Nasional" atau mengadakan aneka lomba. Pemenuhan hak-hak anak dan menyadarkan kepada orang tua akan hak anak lah yang menurut saya seharusnya dilakukan di Hari Anak.
Memberikan beasiswa atau menggratiskan biaya sekolah agar anak-anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya dan anak-anak yang tidak bersekolah karena mahalnya sekolah bisa kembali mengenyam pendidikan. Bagi saya, itulah hal yang paling berharga sebagai hadiah di Hari Anak Nasional.
Semoga anak Indonesia terpenuhi hak pendidikannya dan segala hak lainnya, serta tak melupakan kewajibannya untuk orangtua dan bangsa. Dan semoga Hari Anak Nasional ini bukan hanya sebagai peringatan semata, tapi kita semua mengerti akan esensinya.
Jakarta, 23 Juli 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar