Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

Mendengar Bicara

"Tahu kenapa Tuhan menciptakan 2 kuping dan 1 mulut? Supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Supaya kita belajar menghargai orang lain bukan menyombongkan diri."

Pernah dengar kata-kata itu? Aku mendapatkannya dari buku yang aku baca dan membuat aku berhenti sejenak dan berpikir. Ada benarnya karena hampir setiap kata yang keluar dari mulut bisa jadi adalah kesombongan atau kata-kata yang menyinggung orang lain.

Terkadang aku juga berpikir, mungkin kebanyakan dari kita kurang memaksimalkan dua telinga kita. Maksudku, lebih sering mana kamu, curhat atau dicurhati orang lain? Ketika kita curhat kepada teman, saat itulah mulut kita banyak keluar kata-kata. Tapi apa telinga kita mendengarkan kata-kata teman kita saat mereka curhat?

Pernah satu waktu ketika aku masih jadi wartawan, aku mewawancarai salah satu anggota DPRD kota tempat aku kuliah itu. Hal yang aku bicarakan adalah soal jalur sepeda. Di kota itu, jalur sepeda hanya diberi cat dan tak ada pemisah dengan jalur kendaraan lain. Kalau kata aku mah itu berbahaya buat pesepeda karena bisa aja terserempet kendaraan lain.

Hal yang aku tanyakan di tengah wawancara adalah "kenapa sih Pak di sini ga dixoba diterapin jalur khusus sepeda yang pakai pemisah gitu sama jalur kendaraan bermotor kayak di Magelang gitu?"

Pertanyaan itu diajuin bukan tanpa alasan. Karena aku lihat jalur khusus sepeda, becak di magelang lebih aman dan nyaman karena terpisah sama kendaraan motor. Jadi itu adalah semacam pertanyaan yang juga untuk masukan. Karena sebagai bagian dari kota itu dan pemakai jalan, rada serem juga kan ketika lagi berkendara terus jalanan ramai dan nyerempet orang yang lagi sepedaan.

Jawaban dari sang anggota DPRD cukup bikin kaget lho. Dia menjawab dengan nada yang meninggi dan bilang "itu kab magelang, ini di Bandung. Beda dong. Magelang ya magelang, jangan samain sama Bandung dong."
Well, sebenernya kaget loh jawaban seperti itu keluar dari mulut seorang anggota DPRD. Kalau aku melihatnya sebagai narasumber itu adalah hal wajar narasumber menjawab pertanyaan wartawan dengan nada yang gak sante.

Dalam otak aku saat itu adalah, bagaimana bisa seorang petinggi di kota itu menjawab sebuah masukan dengan jawaban yang, kalau kata aku, gak bijaksana. Mmm semacam menolak masukan yang datang tanpa mengkajinya terlebih dahulu.

Mungkin pertanyaan yang aku ajukan salah juga ya, atau mungkin terlalu sensitif. Tapi apapun itu aku belajar kalau ternyata banyak dari kita yg masih menggunakan mulut lebih banyak daripada telinganya. Terkadang kita lebih banyak mengikuti kemauan yang keluar dari mulut kita daripada mendengarkan masukan dari sekitar kita.

Mungkin aku pun terlalu kurang peka sehingga mengeluarkan pertanyaan dari mulutku yang bikin sang bapak DPRD sakit hati.

Apapun itu paling nggak aku belajar, hati-hati mengeluarkan kata dari mulutmu dan banyaklah mendengar orang disekitarmu, sebagaimana kamu ingin didengar orang.

Cheeerss...

Senin, 03 Juni 2013

Ayo Menulis!

"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." - Pramoedya Ananta Toer

Sejak kelas 2 SMA, menulis menjadi suatu bagian dalam kehidupanku. Dan aku menganggapnya sebagai suatu konsekuensi dari pilihanku masuk jurusan Bahasa. Seminggu 4 hari selalu ada pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia. Bermain dengan kata menjadi hal yang aku anggap hanya sekadar tugas sekolah.

Sampai suatu hari, Pak Anang, guru sastraku selalu punya cara untuk membuat kamu menulis. Meditasi, mengeluarkan apa yang kami rasakan dalam sebuah kata, hingga mengucapkan satu kata secara spontan.

Aneka tugas mulai dari membuat puisi, musikalisasi puisi, hingga membuat rangkuman karya sastra, membuat aku pelan-pelan jatuh cinta dengan dunia menulis. Bukan hanya suatu pemenuhan tugas sekolah tapi menulis juga menjadi sarana untuk aktualisasi diri, paling nggak itu menurutku.

Dari hanya membaca karya sastra dari angkatan 20an, angkatan Balai Pustaka hingga sastra mbeling, dan menulis aneka puisi, cerpen hingga skenario untuk drama sastra, membuat saya benar-benar jatuh cinta dan memaksakan diri untuk rajin menulis.

Saat kuliah pun begitu. Hampir setiap tugas di Jurusan Jurnalistik membuat saya sering membuat sebuah tulisan. Bedanya, jika di SMA saya banyak menulis fiksi, di Jurnalistik saya membuat tulisan sesuai fakta yang terjadi.

Tugas mingguan untuk apresiasi buku juga memacu saya untuk menulis. Apresiasi yang berisi rangkuman buku, memberikan penilaian terhadap buku, simpulan hingga pertanyaan tentang buku menjadi makanan mingguan yang tak boleh lewat. Okeh, tugas ini memang salah satu tugas yang "apaan sih tiap minggu" buat aku, tapi pada akhirnya aku sendiri sadar, dari tugas ini aku dapat banyak hal. Pertama, jelas ilmu yang didapat dari buku. Kedua, cara kamu menyampaikan apa yang ada di otak kamu tentang suatu hal lewat kata-kata. Ketika, berpikir kritis. Keempat, belajar menghargai karya orang lain.

Dan sekarang, setelah hampir duia tahun lulus dari kuliah, saya sadar, saya kehilangan banget momen saat menulis. Saat harus berpikir untuk mencari kata yang tepat untuk menyampaikan ide, bermain-main dengan kata, bahkan buka kamus besar bahasa Indonesia untuk mencari arti kata yang nggak umum kita pakai.

Saat masih menjadi wartawan, adalah saat yang paling menyenangkan. Gimana nggak, lo kerja dan dibayar untuk pergi ketemu banyak orang dan menulis. Yap, menulis tentang banyak hal. Sampai sekarang, aku masih menganggap jadi wartawan adalah profesi paling menyenangkan. Dapat ilmu, menulis, dapat hal baru, menulis, dam bahagia.

Seenggaknya benar kata salah seorang senior saya di kampus. "Beneran deh, mungkin sekarang kamu benci dengan tugas apresiasi buku setiap minggu dari Pak Sahala. Tapi percaya deh, dengan tugas itu kamu akan membaca banyak hal, dapat ilmu banyak banget yang bahkan mungkin nanti saat kmu kerja, kamu nggak akan sempat untuk cari ilmu dari membaca banyak buku seperti sekarang".

Well, I agree with him. Dan apa yang saya rasa, bukan hanya kehilangan waktu untuk membaca, tapi waktu untuk menulis, seperti yang saya bilang, menulis untuk bisa mencapai aktualisasi diri.

Dan setuju juga dengan Pramoedya, tulisan nggak akang lekang oleh waktu. Karena tulisan kita mengandung pemikiran, ilmu, dan diri kita sendiri.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" - Pramoedya Ananta Toer


So, let's writting!!