Selasa, 27 Januari 2015
Perhatikan Kandungan Suplemen Dietmu
Minggu, 25 Januari 2015
Nyasar!
Perjalanan nyasar gue yang paling parah adalah pas punya niat mulia ke nikahan Iken di Tangerang. Sebagai teman yang baik, begitu Iken bilang mau nikah dan kasih undangan, gue langsung dong merencanakan untuk dateng ke nikahan Iken, di Tangerang. Well, gue gak tau Tangerang. Gue ke Tangerang kalo ke bandara doang. Itu pun naik damri, dan tidur di jalan. Jadi tau-tau udah sampe aja di bandara.
Si Iken udah mewanti-wanti gue dan Anbel untuk naik kereta ke Tangerang dan kasih rute angkot. Nyatanya, pas hari H, gue sama Anbel naik motor. Make up udah full, baju udah kece, dan kita memutuskan naik motor ke Tangerang. Bukan karena kita anaknya geng motor banget, tapi karena kita gak tau stasiun mana yang nyediain parkiran untuk motor. Jadi keputusan naik-motor-ke-Tangerang ini diambil setelah singgah ke stasiun Manggarai dan Sudirman gak ada parkiran motor.
Maka dengan kesotoyan kita, berangkatlah. Anbel bilang, untuk sampai Tangerang kita harus lewat Ciputat. Gue yang ga tau jalan dan sebagai pembonceng, iya aja. Sampe ciputat, kita bertanya nama jalan sesuai yang tercantum di undangan, ke pak polisi yang lagi nilang orang. Untungnya si bapak gak ikutan nilang gue, dan langsung kasih arah jalan.
Karena gue suka bego soal beginian, gue laporan langsung ke anbel kalo kita harus lewat flyover lurus terus sampe ketemu McD dan belok kanan. Dan ternyata, jalanan yang kata pak polisi itu deket, ternyata lumayan jauh. Ini yang kadang suka gue ga ngerti, ukuran jauh-dekat ternyata tergantung masing-masing orang.
Dan jreng jreng, alamat yang ditunjukin pak polisi itu, mmmm bener sih sesuai nama jalan, tapi mmmm itu perkampungan, sedangkan rumah Iken perumahan.
Gue keluar masuk gang sama Anbel dan gak ada janur kuning ato tanda-tanda orang nikahan. Sampe akhirnya gue liat undangan lagi dan saat itu gue menyadari, betapa pentingnya pelajaran Geografi. Di undangan Iken tertulis KOTA TANGERANG, dan posisi gue di TANGERANG SELATAN. Gak usah tanya perasaan gue sama anbel saat itu. Diem, mikir keras, lemes. Dan lebih lemes setelah cek google maps ternyata jauh banget kota tangerang dari tangerang selatan.
Dan moment seperti itu adalah moment seharusnya Pintu Ke Mana Aja ada.
Udah hampir jam 3 sore, yang berarti itu udah 2 jam perjalanan gue. Akhirnya, kita memutuskan untuk tetap ke nikahan Iken. Dan kebegoan kembali lagi. Entah kenapa, rute yang kita ambil adalah ke arah jalanan yang rusak parah (okeh, ternyata itu jalanan truk, di mana lubang jalanan kayak bekas berantemnya Power Rager melawan anak buah Rita Repulsa) dan jalanan itu menggiring kita masuk ke dalam Lippo Karawaci. Komplek elite yang bikin kita berasa kayak di negeri alien. Smua jalanan berasa sama, dan kita cuma muter-muter ga jelas di sana.
Setelah nanya-nanya orang mule gak mempan, maka kita gunakan bantuan lainnya: Nelpon temen. Hasilnya? "YA AMPUN. BAHKAN DI JAKARTA LO SAMA ANBEL MASIH NYASAR?? LO NGAPAIN KE TANGERANG MALAH SAMPE UPH??? HAHAHAHA".
Begitulah hidup.
Jam 5, akhirnya gue dan anbel bisa duduk manis di sebuah McD di kota tangerang. KOTA TANGERANG. Setelah hampir 5 jam nyasar, dan akhirnya sampe KOTA TANGERANG, percayalah, rasa laper mengalahkan segalanya.
Jam setengah 6 sore sampelah kita di rumah Iken, tempat acara nikahan, dan..... acara udah selese, kursi-kursi udah diberesin, bahkan mempelai pria udah ganti kaos.Telat? IYA TELAT BANGET. Ini pertama kalinya gue kondangan dengan muka kucel luar biasa setelah terpapar debu jalanan dan perdebuan dari truk.
"Ya Allah Lala, Anbeeeell, kalian nyasar di mana? Kirain gak dateng", pekik si Iken dari rumah.
Gue dan Anbel cuma bisa nyengir kuda. Drama luar biasa banget buat sampe Tangerang.
Dan pulangnya, ternyata tinggal lurus doang ke arah Grogol. Oh men banget lah. Ternyata dari awal kita udah salah ambil jalan.
Sejak itu, kedodolan gue nyasar bukannya sembuh, masih aja peristiwa nyasar lainnya. Yang paling epic sih, gue nyasar ke Arion Mall yang udah sedeket itu dari rumah.
Iya, kayaknya emang gue harus ikutan pramuka, rajin-rajin ikutan mencari jejak biar gue tau cara-cara bertahan kalo nyasar ato baca-baca tanda alam ke arah tujuan kita.
Senin, 29 Desember 2014
Bersyukur, La, Bersyukurlah
"Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu meninginkari (nikmat)Ku" (QS 2:152)
Ada yang selalu terlewat dari manusia. Mereka menginginkan banyak hal, segala hal yang diinginkan selalu ada, mengejar semuanya mati-matian. Lalu ketika semua tidak berjalan sesuai rencana, para manusia ini penuh dengan kekecewaan, mencari alasan untuk mengumpat, bahkan menyalahkan pihak lain. Ah, manusia.
Aku pun begitu.
Beberapa kali aku dengar para manusia ini berkeluh banyak. Mengeluhkan jalanan yang macet, kereta yang lama datang, pekerjaan yang tidak lancar, gaji yang kecil, lembur, dan banyak sekali. Mungkin, kalau berbagai keluhan itu disatukan, aku bisa membuatnya menjadi sebuah buku yang tebalnya mengalahkan ensiklopedia.
Aku pun begitu.
Aku banyak mengeluh. Soal pekerjaan yang aku ambil padahal jauh dari harapanku. Aku banyak mengeluh soal aku yang menandatangani kontrak kerja untuk di bidang yang tak terpikirkan ini dengan status yang tak jelas.
Aku banyak mengeluh. Soal hal-hal yang kusukai tak lagi bisa aku lakukan dengan rutin. Soal mimpiku yang tertunda.
Aku banyak mengeluh, hingga aku sendiri capek dengan keluhanku.
Sampai suatu hari, Mbah Putri datang ke tempatku. Mbah Putri ini bukan ibu kandung dari Mamaku, tapi Mbah Putri ini adalah kakak dari ibu kandung Mamaku. Ibu kandung Mamaku sendiri sudah lama meninggal sejak Mama kecil.
Mbah Putri tiba-tiba menangis. Dia diam, tapi aku tahu, dari matanya meleleh air ke pipinya. Dia menatap aku dalam, sambil bilang "Nok, bersyukur nok, bersyukur banyak-banyak ke Gusti Allah. Kamu bisa di sini, tempat tinggal yang cukup, kerjaan, bersyukur, nok, bersyukur ya Nok."
Tau rasanya? Kayak ditampar.
Banyak berkeluh soal hal-hal yang gak sesuai hati, dan tiba-tiba Mbah Putri bilang begitu. Kalimat Mbah Putri langsung bikin aku betapa kecil aku di hadapan Allah. Betapa banyak yang aku minta, dan betapa banyak yang Allah beri, dan aku masih mengeluh.
Allah beri aku pekerjaan, dan aku mengeluh, padahal jauh di luar sana banyak orang yang ingin bekerja di posisi aku. Bersyukur banyak-banyak.
Mungkin memang yang Allah kasih tidak tepat sesuai dengan yang kita mau. Tapi yakinlah itu yang terbaik untuk kita. Mungkin memang yang Allah kasih tidak tepat sesuai dengan yang kita mau. Tapi yakinlah, Allah ingin kita berusaha dan pada saatnya nanti, Allah akan berikan semuanya.
Bersyukurlah banyak-banyak. Bersyukurlah banyak-banyak ke Gusti Allah.
Senin, 03 November 2014
Kejutan dari Pasar Santa
Maka, jam 18.30 sampailah aku seorang diri di depan Pasar Santa. Pasar yang terletak di jalan Cipaku ini cukup gelap dari luar, cahaya dari pedagang kaki lima dan toko di depan pasar lah yang membuat Pasar ini sedikit terang.
Sedikit bingung, aku melangkah masuk ke halaman pasar mencari pintu masuknya. Maklum, karena sudah malam banyak toko yang tutup. Meski begitu, halaman pasar ini dipenuhi beberapa mobil yang parkir. Dua buah karangan bunga ucapan selamat menjadi tanda buatku kalau di situlah letak pintu masuknya. Benar saja, cahaya yang terang dari lampu pasar dan beberapa toko yang masih buka menandakan kalau pasar ini belum benar-benar tutup.
Aku menaiki tangga memasuki pasar. Sama seperti pasar umumnya, jejeran kios khas pasar seperti toko emas dan toko jam beberapa masih buka. Yang sedikit berbeda bagiku adalah papan penunjuk yang bertuliskan foodcourt dengan panah menunjuk ke atas di depan sebuah tangga.
Ada foodcourt di pasar. Daripada aku kebingungan menunggu temanku yang belum kunjung datang, akhirnya aku memutuskan untuk naik ke foodcourt. Pegangan tangga ditutup dengan koran dan di anak tangga terdapat hiasan haloween sepert tangan, kemenyan, hingga cat merah yang dibuat seolah-olah darah.
Dan ketika benar-benar sampai di foodcourt yang dimaksud, akhirnya aku tahu kenapa temanku itu semangat mengajakku ke Pasar Santa.
Lantai atas Pasar Santa ini sangat jauh berbeda dari pasar-pasar tradisional yang sering kita datangi. Bagian atas pasar ini disulap menjadi sebuah tempat nongkrong khas anak muda. Tidak ada bau amis, bau daging, atau beberapa sayuran yang terjatuh ke lantai yang biasa ada di pasar tradisional.
Kios-kios pedangang di lantai atas Pasar Santa ini disulap menjadi kios yang penuh kreatif dan berwarna dari si pemilik kios. Yang dijual pun bukan sayuran atau daging mentah, tapi aneka makan siap santap, pakaian, kopi, hingga piringan hitam. Semua khas anak muda.
Lihat saja kios Ladies Who Bake yang menyulap kios kecil pasar ini menjadi menarik. Di satu sisi kios ditutup dengan kaca dan di sisi satu lagi diberi pintu kaca serta kaca bertulis Ladies Who Bake. Di dalamnya ada meja dan kursi tempat untuk menikmati kue yang di jual. Yang menari perhatian adalah bagian atas di luar kios ini yang diberi hiasan papan panjang warna warni segitiga membentuk atap.
Atau bisa juga menilik kios "tuk". Salah satu dindingnya ditutup dengan kayu dan bertuliskan nama brand mereka. Sisi lainnya di cat dengan warna putih dan merah yang membentuk gelombang. Dan digantungkan pula rak kawat yang memajang aneka hasil kreativitas mereka.
Adapula kios yang lebih simple. Post, kios ini menata dengan rapi buku-buku dalam rak dan di atas meja. Dengan hiasan manis di atas rak, kios ini mampu menarik perhatian pengunjung untuk mampir dan berlama-lama mencari buku di sini.
Adapula yang membuat komik pop art di dinding dengan warna-warna vintage. Atau memajang aneka kata-kata inspiratif dalam pigura di dindingnya. Semua khas anak muda.
Tak hanya kios yang penuh dengan semangat anak muda, para pengunjungnya pun didominasi para muda mudi. Lengkap dengan dandanan hits dan pakaian ala anak gaul yang biasa kita lihat di mall ternama, para muda mudi ini tak ragu untuk menghabiskan malam di sini.
Meski tanpa AC dan jauh dari kata mewah ala mall atau club, muda mudi ini masih tetap bersemangat untuk menjelajah setiap sudut Pasar Santa yang kini telah jauh berubah menjadi lebih modern.
Senin, 18 Agustus 2014
Happy 25!
Meski ini ulang taun kesekian jauh dari rumah, but it's okay. Ada teman-teman yang datang ke rumah dan bikin syukuran kecil. Sebenernya lebih ke ngumpul-ngumpul sih gegara jarang ngumpul. Dengan anak-anak yang itu lagi itu lagi kalo ngumpul di rumah aku, ada sedikit beda lah ya dibanding ngumpul ulang taun aku taun kemarin. Bedanya, sekarang Iken udah jadi istri orang, dan Anbel udah jadi PNS. Gw sama diana? Masih aja sama. Makanya gak heran kalo si Iken berdoa khusus buat gue dan diana biar ga sama kayak taun kemarin mulu.
Banyak doa yang gue dapet via ketemu langsung, ato medsos, ato telpon, ato sms. Dan semoga semuanya bisa segera terwujud. Gue sendiri pun akhirnya membuat target baru untuk umur 25 ini. Apa? Salah satunya adalah gue harus lebih banyak travelling yang artinya gue harus save money lebih banyak. Dan hal lainnya, gue harus bisa ngatur keuangan gue dengan sangat-sangat-sangat baik. Dan untuk bagian paling menyenangkannya, gue berencana ikutan les tari tradisional bareng Anbel.
Kenapa harus tari tradisional? Kenapa harus sama Anbel? hahah.. Ini adalah cara gue dan Anbel untuk bikin badan lebih oke dengan cara yang fun. Dan Anbel adalah temen yang sangat-sangat oke untuk ide-ide random super fun macem gini. Hihihi..
Well, di umur 25 ini gue ngerasa bersyukur banget punya keluarga yang sangaaaaat menyenangkan. Papa yang hobi becanda tapi bener-bener bisa ngebuat gue untuk ngelihat segala hal dari banyak sisi. Intinya kalo bingung mau mutusin suatu pilihan, papa jagoan banget bantu gue untuk ngenalin mana yang gue butuh dan mana yang gue mau. Mama yang enak banget buat tempat cerita panjang lebar sampe masak bareng. Lia yang randomnya lebih ngaco dari gue tapi sama ini anak apa aja bisa dijadiin bahan ketawaan. Dan si Upi, aduh ini anak paling bisa banget bikin orang ngakak sampe sakit perut dari ceplosannya sampe kelakuannya.
Dan alhamdulillah gue punya temen-temen yang oke, bisa diajak ngobrol serius, main, becandaan, curhat, sampe nyampah gak jelas. Duh banyak, ada Anbel, Bertha, Vian, Diana, Iken, Mail, Dina, ah banyak deh pokoknya banyak kalo disebutin. How lucky I am to have them in my life.
And thanks God I have an amazing life. Kuliah di kampus yang seenak jidat bajunya dengan tugas yang bikin ketemu banyak orang, sampe 2 hari 2 malem gak tidur demi tugas. Jatuh bangun kerja sambil bikin skripsi yang mending kantor dan tempat penelitian satu kota, ini beda kota. Tapi tetep aja pake main-main hahah.. Stress mule usaha sampe nyari pasar yang cocok. Dan akhirnya sekarang kerja kantoran yang kadang masih aja kangen buat bikin tulisan kayak dulu.
"Gue masih suka gak abis pikir sama lo, La. Lo tuh jago masak, jago bikin kerajinan detail kayak rajutan, kenapa sih lo malah milih kerja kantoran? Gue kadang suka sayang sama kemampuan lo itu La. Kenapa gak lo lanjutin aja toko kue lo? Ato kenapa gak lo buka toko craft hasil karya lo? Mending lo wirausaha deh la yang jam kerjanya fleksibel. Ato gak, jadi wartawan lagi", kata Iken, yang kesekian kalinya. Iya, YANG KESEKIAN KALI.
Tetep, gue masih belum bisa ngejawab pertanyaan iken dengan alasan logis yang kuat. ahahaa.. Dan someday, I will try to open my crafty shop, by myself. I will.
Well, so happy 25 to me. Mari segera wujudkan mimpi-mimpi. Happy birthday, La!
Senin, 02 Desember 2013
Dinamis
Liburan weekend kemarin sempet membuat saya kaget. Banget. Dan berpikir, saya terlalu naif menganggap semua teman saya masih sama seperti terakhir saya bertemu mereka. Karena mereka dinamis. Mereka berubah, bertemu dengan orang-orang, kemudian menerima dan menolak hal-hal dari banyak orang, lalu semua itu membentuk teman-teman saya menjadi sosok baru. Saya aja yang masih naif. Paling nggak sampai hari di mana saya bertemu mereka, weekend kemarin.
Bukan, bukan, saya bukan mau cerita hal apa yang membuat saya shock bertemu teman-teman saya weekend kemarin. Saya hanya mau menuangkan pikiran saya aja soal manusia yang bersifat dinamis itu. Paling nggak, sekarang saya mulai sedikit memikirkan kalimat itu bukan hanya sekedar mengucapkan kalimat itu atau membacanya dari buku-buku.
Menurut saya, manusia sebagai makhluk dinamis itu benar adanya. Kenapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia gak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Percaya deh, seberapa egoisnya, seberapa sombongnya orang, dia pasti butuh orang lain untuk hidup. Simpelnya, kayak saya ini. Kalo kata ibu saya, saya kelewat cuek sama orang, tapi bagaimana pun juga saya butuh orang lain untuk ingetin saya jangan terlalu cuek. Iya, saya butuh ibu saya.
Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, entah itu komunikasi langsung atau tak langsung, itu pasti memberikan pengaruh ke kita. Intensitas kita dalam bertemu dan berkomunikasi dengan orang ikut mempengaruhi perubahan dalam diri kita. Cara orang lain berbicara atau memperlakukan kita, sedikit banyak juga ikut mempengaruhi cara kita bicara. Atau bahkan ketika kita ngobrol dan bertukar pendapat dengan orang, pikiran orang lain sedikit banyak pun ikut berpengaruh dalam cara berpikir kita.
Inilah yang saya bilang perubahan dalam diri seseorang dipengaruhi oleh komunikasi seseorang. Well, saya gak akan ngejelasin soal komunikasi, karena itu akan sama aja kayak kuliah dulu.
Jadi ketika saya mulai sedikit shock dengan perubahan drastis teman saya saat itu, saya sadar kalau selama jeda waktu kami jarang pergi atau ngumpul bersama, dia bertemu banyak orang. Dia bertemu dengan berbagai macam orang yang beraneka macam, dan itulah yang akhirnya berada di proses "penerimaan" dan "penolakan" dari orang-orang di sekitarnya.
Dan ketika saya bertemu dengan teman saya, proses "penerimaan" dan "penolakan" itu pun ada dalam diri saya. Saya bisa menerima atau menolak sikap baru teman saya. Keputusan untuk menerima dan menolak itu balik lagi ke diri masing-masing, kalau menurut saya sih keputusan itu berdasarkan sesuai atau tidaknya dengan prinsip dan tujuan dalam diri kita masing-masing.
Ketika kita memutuskan untuk menerima hal baru dari orang-orang di sekitar kita, maka tidak akan ada masalah dalam komunikasi. Respon yang ada adalah tindakan positif karena kita menerima, setuju, dan bisa jadi kita akan mengikuti hal baru yang kita dapat dari orang lain.
Lain halnya jika menolak hal baru yang datang ke kita. Misal, orang di sekitar kita menyukai musik beat kencang, dan setiap hari kita mendengar musik itu. Respon yang terjadi adalah kita menjadi suka atau kita tetap bertahan untuk menolak. Jika menolak, berarti akan ada konflik dalam komunikasi (bukan konflik berarti lo ribut ya), di mana kita tidak menerima hal baru tersebut. Jika diatasi dengan baik maka semua akan baik-baik saja. Lalu kalau gak baik-baik gimana? Bisa jadi kita beneran ribut sama teman kita, atau bahkan kita yang akan meninggalkan teman-teman kita.
Kalau dalam soal saya dan sikap baru teman saya, adalah saya menolak sikap dan pola pikir teman saya ini, tapi saya berusaha mengatasi konflik komunikasi yang ada. Konflik komunikasi yang ada adalah saya tidak sepakat dengan tindakan yang diambil oleh teman saya, saya tidak sepakat dengan sikap dan pola pikirnya. Tapi,saya berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik dengan teman saya ini. Well, yang saya lakukan adalah saya menunjukkan bahwa diri saya tidak menyukai dengan pola pikir dia, saya mengatakannya kepada teman saya, tapi saya tetap menjadi temannya. Ketika dia mengeluarkan pola pikirnya yang tidak sepaham dengan saya atau sikap yang tidak sesuai dengan visi saya, maka saya akan berusaha menolak dengan alasan yang jelas.
Well, sekali lagi, people do changes. Tinggal kitanya aja gimana menyikapi setiap perubahan-perubahan itu. Gimana kita menyaring itu semua.
Sabtu, 27 Juli 2013
Takut Berita
Ketika jaman kuliah dulu, salah satu bahasan di hampir seluruh mata kuliah adalah berita memberikan rasa takut dan tidak nyaman bagi masyarakat. Kok berita? Iya, karena saya kuliah di jurusan jurnalistik. Kok bisa memberikan rasa takut dan tak nyaman? Karena isi beritanya.
Ya, isi berita rupanya bisa memberikan rasa takut dan tak nyaman bagi masyarakat. Kalo dulu di kuliah sih, kita para calon wartawan (disebut gitu karwna kuliah di jurnalistik) harus hati-hati dalam menulis berita, baik dari angle berita ataupun bahasa jurnalistiknya. Kalau salah, bisa-bisa menimbulkan takut dan tak nyaman.
Contohnya ketika dulu ada berita kolor ijo. Karena terus diekspos dan disampaikan dengan kurang baik, yang terjadi di masyarakat adalah mereka takut dan nggak nyaman. Parahnya ada yang memanfaatkan ini untuk hal-hal yang nggak baik seperti pura-pura jadi kolor ijo demi menguras harta seseorang.
Well, dulu jaman kuliah dan ketika membahas persoalan sebuah berita bisa bikin rasa takut dan nggak nyaman, setengah dari diri saya merasa hal seperti ini adalah hal yang berlebihan. Saya, ketika masa itu, berpikir bagaimana bisa sebuah berita yang berdasar data dan fakta malah bikin takut?
Sampai akhirnya ketika saya menjadi wartawan saya belum menemukan jawaban nyata dari pertanyaan saya itu. Untungnya saat jadi wartawan saya pegang desk lifestyle, kuliner, wisata, dan hotel. Desk yang menurut saya adalah desk hura-hura karena liputannya udan bikin saya main sambil kerja dan beritanya adalah feature news. Mentok-mentok bikin hardnews ya di desk hotel.
Dan jawaban dari pertanyaan saya soal berita bisa bikin takut dan tak nyaman itu akhirnya saya dapatkan. Jawabannya saya dapat justru ketika saya tidak lagi menjadi wartawan. Iya, akhirnya saya sendiri yang merasakan bahwa berita bisa menimbulkan rasa takut, tak aman, tak nyaman di nasyarakat. Saya punya rasa takut itu terhadap berita.
Bagaimana bisa, saya yang dulu berkutat pemberitaan dari mulai cari isu, getting news ke sana ke sini, nulis, mantau berita dan lain-lain, bisa sampai punya rasa takut terhadap berita? Ini yang saya juga belum tau.
Jadi, rasa takut terhadap berita itu ternyata rasanya adalah bikin saya menghindar dari membaca berita. Okay saya spesifikasiin ya. Berita yang saya hindari adalah berita dari online terutama berita dari satu situs online yang terkenal di masyarakat. Kenapa saya hindari? Karena saya takut baca berita di situs online itu.
Karena saya terbiasa dengan hatus update berita setiap hari (kebiasaan dari jaman kuliah dan jaman jadi wartawan dulu yang kebawa sampe sekarang), setiap pagi saya baca berita di salah satu situs berita online terbesar. Dan entah kenapa berita pagi di online tersebut didominasi oleh berita kecelakaan dan kriminal. Berita-berita yang justru membuat saya takut dan nggak nyaman. Berita yang kalau saya masuk tol atau naik kendaraan apapun tiba-tiba membuat saya berpikir "aduh aman nggak ya ini lewat jalan tol? Aman nggak ya kalau saya naik bus atau kereta?". Pun dengan berita kriminal. Sangat sering loh saya punya ketakutan seperti "aduh pencurian di sana jangan-jangan bisa ke sini? Aduh nanti kalau saya pulang naik angkot gimana ya, aman ngga ya?".
Dari apa yang saya rasakan itu, desk berita kriminal sangat-sangat memberikan rasa takut untuk saya. Makanya sekarang saya mengurangi intensitas saya untuk baca berita di situs online tersebut. Dan saya nggak pernah menyangka, rasa takut dari berita ternyata separah ini.
Beruntungnya saya, dua media cetak tempat saya bekerja dulu tidak ada desk kriminal atau kecelakaan. Kalau ada pasti ada kemungkinan saya ditempatkan di desk itu dan justru bisa bikin saya takut untuk meliput berita karena nggak nyaman.
Oh kalau kata dosen saya dulu sih, untuk menghindari rasa takut dan tidak nyaman berita harus dikemas apik. Dengan bahasa yang baik, seperti yang saya bilang tadi. Selain itu juga bisa dengan memposisikan berita atau kalau dalam media cetak dengan rubrikasi berita yang tepat.
Berita kriminal dalam media cetak nggak mungkin ditaruh di halaman-halaman awal kan? Berita kriminal biasanya ditaruh di halaman-halaman akhir supaya pembaca tidak takut duluan ketika buka majalah. Sama halnya dengan berita online. Bisa kan media online ini tidak memunculkan berota kriminal dan kecelakaan semalam di awal berita pagi?
Ada baiknya admin media online menaruh berita translate (istilah berita yang diambil dari media luar negeri dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, istilah kantor saya dulu di media online) tentang kesehatan, manfaat buah, atau feature news tentang traveling atau ramadhan dan hal yang jadi obrolan masyarakat untuk di berita awal di pagi hari. Tujuannya seperti majalah itu, supaya pembaca tidak lari ketakutan karena berita yang muncul pertama menyeramkan.
Jadi, ada yang punya rasa takut dan nggak nyaman terhadap berita?
Psst, that's why saya lebih milih untuk nulis dengan feature news dengan topik yang full entertain, saya nggak mau bikin takut masyarakat.