Senin, 03 November 2014

Kejutan dari Pasar Santa

Sabtu kemarin, sebuah pesan masuk ke dalam handphoneku. Dari seorang teman yang mengajak untuk ke Pasar Santa malam itu. "Mau ada relaunching Pasar Santa, La. Gue kerja sih, mentri mau ninjau ke situ. Tapi lo ikut aja yuk, sekalian main", tulis temanku yang memang seorang humas di Kementrian.

Maka, jam 18.30 sampailah aku seorang diri di depan Pasar Santa. Pasar yang terletak di jalan Cipaku ini cukup gelap dari luar, cahaya dari pedagang kaki lima dan toko di depan pasar lah yang membuat Pasar ini sedikit terang.

Sedikit bingung, aku melangkah masuk ke halaman pasar mencari pintu masuknya. Maklum, karena sudah malam banyak toko yang tutup. Meski begitu, halaman pasar ini dipenuhi beberapa mobil yang parkir. Dua buah karangan bunga ucapan selamat menjadi tanda buatku kalau di situlah letak pintu masuknya. Benar saja, cahaya yang terang dari lampu pasar dan beberapa toko yang masih buka menandakan kalau pasar ini belum benar-benar tutup.

Aku menaiki tangga memasuki pasar. Sama seperti pasar umumnya, jejeran kios khas pasar seperti toko emas dan toko jam beberapa masih buka. Yang sedikit berbeda bagiku adalah papan penunjuk yang bertuliskan foodcourt dengan panah menunjuk ke atas di depan sebuah tangga.

Ada foodcourt di pasar. Daripada aku kebingungan menunggu temanku yang belum kunjung datang, akhirnya aku memutuskan untuk naik ke foodcourt. Pegangan tangga ditutup dengan koran dan di anak tangga terdapat hiasan haloween sepert tangan, kemenyan, hingga cat merah yang dibuat seolah-olah darah.

Dan ketika benar-benar sampai di foodcourt yang dimaksud, akhirnya aku tahu kenapa temanku itu semangat mengajakku ke Pasar Santa.

Lantai atas Pasar Santa ini sangat jauh berbeda dari pasar-pasar tradisional yang sering kita datangi. Bagian atas pasar ini disulap menjadi sebuah tempat nongkrong khas anak muda. Tidak ada bau amis, bau daging, atau beberapa sayuran yang terjatuh ke lantai yang biasa ada di pasar tradisional.

Kios-kios pedangang di lantai atas Pasar Santa ini disulap menjadi kios yang penuh kreatif dan berwarna dari si pemilik kios. Yang dijual pun bukan sayuran atau daging mentah, tapi aneka makan siap santap, pakaian, kopi, hingga piringan hitam. Semua khas anak muda.

Lihat saja kios Ladies Who Bake yang menyulap kios kecil pasar ini menjadi menarik. Di satu sisi kios ditutup dengan kaca dan di sisi satu lagi diberi pintu kaca serta kaca bertulis Ladies Who Bake. Di dalamnya ada meja dan kursi tempat untuk menikmati kue yang di jual. Yang menari perhatian adalah bagian atas di luar kios ini yang diberi hiasan papan panjang warna warni segitiga membentuk atap.

Atau bisa juga menilik kios "tuk". Salah satu dindingnya ditutup dengan kayu dan bertuliskan nama brand mereka. Sisi lainnya di cat dengan warna putih dan merah yang membentuk gelombang. Dan digantungkan pula rak kawat yang memajang aneka hasil kreativitas mereka.

Adapula kios yang lebih simple. Post, kios ini menata dengan rapi buku-buku dalam rak dan di atas meja. Dengan hiasan manis di atas rak, kios ini mampu menarik perhatian pengunjung untuk mampir dan berlama-lama mencari buku di sini.

Adapula yang membuat komik pop art di dinding dengan warna-warna vintage. Atau memajang aneka kata-kata inspiratif dalam pigura di dindingnya. Semua khas anak muda.

Tak hanya kios yang penuh dengan semangat anak muda, para pengunjungnya pun didominasi para muda mudi. Lengkap dengan dandanan hits dan pakaian ala anak gaul yang biasa kita lihat di mall ternama, para muda mudi ini tak ragu untuk menghabiskan malam di sini.

Meski tanpa AC dan jauh dari kata mewah ala mall atau club, muda mudi ini masih tetap bersemangat untuk menjelajah setiap sudut Pasar Santa yang kini telah jauh berubah menjadi lebih modern.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar